Ekbis

Inilah Penyebab Lambatnya Pertumbuhan Industri JIIPE

Gresik (beritajatim.com) – Advisor PT Java Integreted Industry and Port Estate (JIIPE) Viktor Edison Simanjuntak menuturkan, penetapan kawasan ekonomi khusus atau KEK di JIIPE terkendala persoalan pajak jual beli tanah. Permasalahan tersebut menyebabkan pertumbuhan industri di JIIPE menjadi melambat.

“Ada persoalan pajak jual beli tanah yang belum beres. Hal ini yang segera kami selesaikan agar rekomendasi KEK yang kami usulkan segera keluar,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (24/01/2020).

Mantan perwira tinggi Polri bintang satu itu juga menuturkan, dirinya baru tahu ada tunggakan pajak jual beli senilai di atas Rp 10 miliar. Dan inilah yang menghambat proses menjadi KEK.

“Rekomendasi KEK yang mengeluarkan Pupati atau Pemda. Padahal, kami sudah mengajukan satu tahun lalu, dan sudah berkali-kali ke Bupati. Persyaratannya pun sudah cukup tapi terkendala belum bayar pajak jual beli,” ujarnya.

Imbas melambatnya rekomendasi KEK, lanjut dia, membuat investor yang akan masuk masih menahan diri. Kendati demikian, investor yang menanamkan modalnya di JIIPE tetap ada. Malahan, untuk mendukung mobilitas pergerakan ekonomi. JIIPE sudah memiliki pelabuhan dalam yang bisa disanggahi kapal bertonase besar.

“Laporan yang masuk satu hari ada tiga kapal bertonase besar. Dimana kapal tersebut sama dengan 30 kapal feeder yang sandar,” paparnya.

Saat ditanya progres proyek perusahaan smelter PT Freeport. Dijelaskan Viktor Edison Simanjuntak, pihaknya sudah berbagi upaya menarik perusahaan tersebut untuk masuk menanamkan investasinya.

“Untuk Freeport kami sudah sediakan lahan 100 hektar,” katanya.

Ia menambahkan, untuk strateginya bagaimana menarik investor ke JIIPE. Manajemennya sudah melakukan berbagi cara. Salah satunya melalui pemasaran. Bahwa, di JIIPE satu-satunya kawasan yang memiliki pelabuhan dalam.

“Kedepannya bakal dilengkapi dengan moda transpotasi kereta api dan tol laut,” imbuhnya. [dny/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar