Iklan Banner Sukun
Ekbis

Ini yang Dibutuhkan untuk Pembangunan Pabrik Pupuk Organik Rp 12 M di Jember

Kepala Dinas Peternakan Jember Andi Prastowo

Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, menganggarkan Rp 12,5 miliar untuk pembangunan pabrik pupuk organik. Komisi B DPRD Jember mempertanyakan peran Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan setempat.

“Kami menyarankan kemarin, dan itu jadi catatan, bahwa jangan berupa pabrik pupuk organik,” kata Nyoman Aribowo, anggota Komisi B dari Partai Amanat Nasional (PAN), dalam rapat kerja dengan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan, di gedung DPRD Jember, Senin (22/8/2022).

Nyoman paham, jika pupuk organik belum populer di kalangan petani. Pemakaiannya tidak semassif pupuk kimia. “Kami mendorong agar ada pemberdayaan ke kelompok tani atau kelompok ternak untuk memproduksi pupuk organik,” katanya.


Selain itu, agar pupuk organik lokal Jember ini benar-benar dimanfaatkan, Nyoman setuju jika Pemkab Jember memaksakan program penggunaan pupuk ini kepada petani. “Misalkan petani yang memperoleh bantuan dari pemerintah, harus menggunakan pupuk organik sekian persen. Dipaksakan, karena petani susah untuk ditunggu. Harus dipaksa. Tapi kami belum tahu apakah nanti tetap pabrik atau dalam bentuk pemberdayaan kelompok-kelompok mulai dari alat, pendampingan, sampai pemasaran,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Andi Prastowo mengatakan, program tersebut adalah kewenangan Dinas Tanaman Pangan. “Cuma pada peternak kami tersedia materi untuk pembuatan pupuk organik,” katanya.

Nyoman meminta agar program pendirian pabrik pupuk organik ini tak hanya menjadi program Dinas Tanaman Pangabn, tapi juga terintegrasi dengan Dinas Peternakan. Hal ini dikarenakan sumber bahan utama pupuk organik berasal dari sektor peternakan. “Kalau program ini (pabrik pupuk organik) tidak inline (segaris) dengan peternakan, ya pincang, dan kalau bicara bahan baku kotoran hewan, nilainya tidak besar. Kalau mau feasible, bahan baku harus bersumber dari lokal,” kata Nyoman.

“Kalau Dinas Peternakan tidak terkoneksi dengan program ini, terus bagaimana keinginan bupati ini beridiri sendiri dan tidak dikoneksikan lintas organisasi perangkat daerah (OPD),” kata Nyoman.

Andi mengatakan, integrasi progran sebenarnya sudah berjalan secara otomatis. “Petani ini selain berbudidaya tanaman pangan dan hortikultura, juga ada yang peternak. Otomatis kalau mereka mau mengolah pupuk organik, bahan sudah tersedia di wilayah masing-masing,” jelasnya.

Namun, Andi mengatakan, petani masih pesimistis jika harus menggunakan pupuk organik. “Mind set petani kita kalau sekarang dipupuk, dua tiga hari kemudian warna tanaman hijau. Kalau pupuk organik ya tidak mungkin. Penggunaan pupuk organik harus tiga tahun berturut-turut baru terlihat hasilnya,” katanya. [wir/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev