Ekbis

Ini Upaya Perum Bulog Sub Divre II Wilayah Surabaya Selatan Stabilkan Harga Gula di Pasaran

Kepala Perum Bulog Sub Divre II Wilayah Surabaya, Renota Horison. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Meski Perum Bulog tak lagi ditugaskan pemerintah untuk menjaga ketersediaan gula, namun Perum Bulog Sub Divre II Wilayah Surabaya Selatan melakukan upaya menstabilkan harga gula di pasaran. Salah satunya dengan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) untuk menggelar Operasi Pasar (OP).

Kepala Perum Bulog Sub Divre II Wilayah Surabaya, Renota Horison mengatakan, berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perusahaan Umum (Perum) Bulog dalam rangka Ketahanan Pangan Nasional. “Perum Bulog ditugaskan untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga tiga komoditas pangan pokok,” ungkapnya, Senin (30/3/2020).

Tiga komoditi pangan pokok tersebut yaitu beras, jagung dan kedelai. Sehingga di saat harga gula di pasaran tembus angka Rp20 ribu per kilogram, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Namun Perum Bulog berkoordinasi dengan Disperindag setempat akan melakukan upaya untuk menstabilkan harga gula melalui OP. Saat ini, lanjut Renota, pengadaan gula masih dalam proses pendistribusian dari pabrik gula.

“Otomatis, jika ada penugasan kita langsung melakukan penyerapan ke petani. Namun Bulog terus berupaya melakukan pembelian gula dalam upaya stabilisasi harga di masyarakat. Saat ini, proses pengadaan sedang berjalan menunggu proses pengiriman yang masih antri di pabrik gula. Kalau gula memang pasokan sedikit, permintaan banyak beda dengan beras,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini harga beras di pasaran masih normal karena stok beras di gudang Bulog masih aman hingga akhir tahun 2020 dan memasuki masa panen. Terkait tingginya harga gula di pasaran, Renota menduga, dari proses suplai. Renota menambahkan, jika stok gula tiba maka pihaknya akan berkoordinasi dengan Disperindag setempat terkait mekanisme pendistribusiannya.

“Terkait beras, Bulog bisa sampaikan tapi terkait gula di luar penugasan dan Disperindag yang bisa menjelaskan. Jika stok gula tiba akan kami koordinasikan dengan Disperindag terkait mekanisme pendistribusian karena kondisi saat ini tidak bisa memancing kerumunan. Jadi mekanisme perdagangan di Disperindag, kami hanya menyediakan komoditi seperti apa kebijakan lokal itu sendiri,” tegasnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar