Ekbis

Ini Penjelasan Kepala Disperta Kabupaten Mojokerto Soal Hama Wereng

Mojokerto (beritajatim.com) – Ratusan hektar tanaman padi milik petani di Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto diserang hama wereng dinilai Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto karena kurangnya koordinasi. Petugas berharap petani melapor usai dilakukan pengecakan, namun tidak dilakukan.

Kepala Disperta Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko mengatakan, sejak 14 Juli 2020 lalu petugas telah melakukan pengecekan dan melakukan pengendalian hama di Desa Balongmasin dengan harapan masyarakat atau petani bisa aktif melapor kepada petugas. “Namun, harapan itu mungkin tidak dilakukan,” ungkapnya, Sabtu (29/8/2020).

Di lain sisi, lanjut Teguh, masyarakat banyak yang salah kaprah dalam menanggapi tugas Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan petugas pengendali hama. Karena kedua petugas tersebut memiliki tugas berbeda dan dari instansi yang berada pula namun bertugas di wilayah Kabupaten Mojokerto.

“PPL itu ada sendiri dan petugas pengendali hama juga ada sendiri. Kalau pengendali hama itu merupakan petugas dari Provinsi yang memiliki wilayah kerja di kabupaten Mojokerto. Jadi mereka yang lebih berwenang, di masing masing kecamatan juga sudah ada sendiri-sendiri petugasnya,” terangnya.

Ia berharap, masyarakat ataupun petani hingga pemerintah desa bisa aktif dalam melaporkan adanya permasalah pertanian di wilayah masing masing. Menurutnya, pihaknya akan berupaya maksimal menanggulangi jika ada hama menyerang tamanan padi milik petani pada masa taman yang akan datang.

Caption : Kepala Disperta Kabupaten Mojokerto, Teguh Gunarko. [Foto: misti/bj.com]
“Sampaikan ke sana (petugas pengendali hama) rekomendasinya seperti apa? Baru dari situ pemerintah bisa membantu apakah bentuk pestisida atau agen hayati lainya. Kami akan berupaya maksimal dan kami menyarankan agar para petani bisa mengikuti asuransi pertanian,” ujarnya.

Pasalnya, lanjut Teguh, asuransi pertanian merupakan salah satu cara untuk para petani yang merugi. Terkait tudingan lemahnya sosialisasi petugas pengendali hama di tiap-tiap kecamatan dan juga keaktifan petani dalam upaya melaporkan adanya gangguan di area pertanian mereka, teguh menyebut hal tersebut bisa menjadi salah satu alasan.

“Bisa saja seperti itu, yang jelas pada 14 Juli lalu petugas telah melakukan upaya penanggulangan pengendalian hama di wilayah tersebut dan disampaikan oleh petugas kalau ada gejala serangan hama. Petani diharapkan untuk melapor, namun itu tidak dilakukan,” tambahnya.

Teguh menepis jika serangan hama wereng di Desa Balongmasin tidak sampai mencapai ratusan hektar, melainkan hanya 0,7 hektar. Tanaman padi milik petani yang terancam ada 50 hektar lebih, namun itu masih bisa di selamatkan.

Sebelumnya, tanaman padi milik petani di Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto di serang hama wereng. Akibatnya, para petani gagal panen dan membakar tanaman padi yang sudah berusia 90 hari tersebut. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar