Iklan Banner Sukun
Ekbis

Ini Faktor yang Pengaruhi Jatuhnya Harga Telur di Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Harga telur di tangan peternak yang hanya dihargai Rp 15 ribu per kilogram, merupakan harga paling hancur untuk tahun ini. Pernyataan itu disuarakan oleh Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Ponorogo Eny Kustianingsih. Menimbang harga bahan pakan ternak yang saat ini cenderung tinggi. Sehingga dengan harga jual tersebut, peternak dipastikan merugi.

“Murahnya harga telur ini, ya karena produksi telur ini over,” kata Eny, Kamis (23/9/2021).

Eny mengungkapkan ada beberapa faktor yang menyebabkan overnya telur di pasaran. Dia menyebut adanya integrator yang saat ini juga punya kandang. Mereka memiliki berjuta-juta ayam untuk memproduksi telur tersebut. Integrator merupakan perusahaan peternakan besar memiliki tingkat efisiensi sangat tinggi karena memiliki integrasi usaha peternakan dari hulu hingga hilir.

Peternak mandiri ayam petelur merugi dengan harga pakan yang naik, namun harga telur cenderung turun. (Foto/Dok.beritajatim.com)

“Integrator atau pabrikan besar itu sekarang sudah punya kandang. Setiap kita komplain, alasannya sebagai observasi kualitas pakan yang mereka produksi. Observasi kok ternak ayamnya jutaan jumlahnya,” ungkap Eny.

Dulu meski ada, tapi distribusinya tidak masuk pasar rakyat. Nah, kalau sekarang malah juga ikut terjun ke pasar-pasar tradisional. Kalau ini dibiarkan, tanpa regulasi bisa menggerus peternak mandiri.

Faktor yang mempengaruhi kedua adalah adanya penerapan PPKM di beberapa daerah. Kebijakan tersebut, mengurangi daya beli di masyarakat. Banyak restoran yang tutup, atau mengurangi jumlah beli telurnya.

“PPKM ini juga ikut mempengaruhi, ada restoran yang mengurangi pembeliannya, bahkan ada yang tutup. Biasanya masyarakat beli dalam jumlah besar dalam rangka hajatan, ini tidak ada yang menggelar hajatan pernikahan,” katanya.

Dengan harga Rp 15 ribu per kilogram, menurut Eny menjadi titik terendah peternak mandiri. Menurut catatan, ada sekitar 20 persen peternak yang manjadi anggota asosiasi saat ini berhenti. Mereka angkat tangan dengan kondisi harga yang turun ini.

“Dari 500 peternak yang terdaftar di asosiasi, ada 20 persen yang berhenti usaha beternak ayam petelur,” pungkasnya. [end/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar