Ekbis

Ini Cara Pemkab Hidupkan Pasar Hewan Terpadu yang Mati Suri

Sumenep (beritajatim.com) – Pemkab Sumenep tampaknya harus putar otak untuk menghidupkan kembali pasar hewan terpadu di Desa Pakandangan Sangra, Kecamatan Bluto.

Pasar yang mulai digunakan sejak Oktober 2016 itu kondisinya ‘mati suri’ karena ditinggalkan pedagang. Mereka berdalih, lokasi pasar hewan terpadu itu terlalu jauh dari kota. Saat ini para pedagang sapi dan kambing lebih memilih membuat ‘pasar hewan baru’ di kawasan kota Sumenep.

“Kami akan mencoba mendatangkan pedagang sapi dari luar Sumenep, misalnya Pamekasan, agar ikut berjualan hewan di pasar terpadu itu. Dengan begitu, diharapkan bisa menghidupkan lagi pasar hewan terpadu di Bluto itu,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumenep, Saiful Bahri, Kamis (07/03/2019).

Pasar hewan terpadu itu dibangun dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumenep sejak 2014. Pasar hewan di lahan seluas 2,1 hektar tersebut mampu menampung hingga 1.500 ekor sapi dan kambing.

“Semangat awal membangun pasar hewan terpadu di Bluto itu kan untuk merelokasi pedagang hewan di Pasar Bangkal. Ternyata sekarang pedagang enggan menempati. Padahal, fasilitas di pasar hewan terpadu itu jauh lebih bagus dibandingkan Pasar Bangkal,” papar Saiful.

Pasar hewan ternak terpadu itu dibangun sejak tahun 2014 dengan anggaran sebesar Rp 2,3 miliar dari APBN 2014. Pada tahun berikutnya, juga digelontorkan dana Rp 200 juta dari APBD Sumenep untuk pembangunan gedung pusat kesehatan hewan.

“Pasar hewan di Bluto ini sebenarnya merupakan satu-satunya pasar hewan ternak di Pulau Madura yang memiliki fasilitas paling lengkap, mulai tempat penurunan hewan ternak dari kendaraan, hingga pusat kesehatan hewan. Jadi eman sebenarnya kalau tidak dimanfaatkan,” ujar Saiful. [tem/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar