Ekbis

Indonesia Dinilai Perlu RUU Tembakau

H. Charles Meikyansyah

Jember (beritajatim.com) – Bisnis tembakau di Indonesia memerlukan perlindungan regulasi. Saat ini terjadi penurunan tren bisnis yang mengancam petani dan buruh di sektor ini.

Wakil Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Charles Meikyansyah mengatakan, bisnis tembakau hari ini mengalami dilema. “Sektor ini terus digempur isu negatif, terutama soal sisi kesehatan. Tapi dari sisi bisnis, tembakau punya peran yang besar dalam menstabilkan keuangan negara,” katanya.

Charles mengingatkan bagaimana defisit yang dialami Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan harus ditutupi dengan cukai tembakau. Ini artinya bisnis tembakau benar-benar memainkan peran penting.

Charles mendesak pemerintah dan DPR mempercepat Rencana Undang-Undang Pertembakauan yang berpihak kepada petani, dan mulai menata tata niaga sektor ini. “Apabila dibiarkan terus mengalami penurunan, maka kesejahteraan buruh dan keuangan negara akan bermasalah,” kata pria yang juga mencalonkan diri menjadi legislator DPR RI dari Partai Nasional Demokrat di Daerah Pemilihan Jember dan Lumajang ini.

Menurut Charles, data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan bahwa jumlah produksi tembakau secara nasional hanya mencapai kisaran 190-200 ribu ton per tahun. Jumlah ini jauh jika dibandingkan dengan komoditas lainnya.

RUU Tembakau akan menguntungkan petani dan para pelaku usaha tembakau, terutama di sentra-sentra produksi seperti Jawa Timur. Provinsi ini telah memberikan kontribusi terbesar untuk cukai tembakau nasional dari total pendapatan Rp 154 triliun.

“Saya terus mendorong agar tata niaga tembakau menyejahterakan bagi buruh. Tidak hanya pembenahan tata niaga, tapi juga akses penyediaan bibit tembakau unggul serta akses permodalan yang dibutuhkan petani tembakau penting sekali untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi,” kata Charles. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar