Ekbis

Impor Tembakau Masih Tinggi, Ini Penyebabnya

Ketua DPN APTI (Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Soeseno (dua dari kanan)

Jombang (beritajatim.com) – Tembakau impor yang masuk ke Indonesia masih tinggi. Utamaya tiga jenis tembakau. Yakni, jenis aromatik, virginia flue cured, dan jenis white burley. Tiga jenis tembakau tersebut merupakan kebutuhan pokok bagi produsen rokok.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional, selama ini kita impor tembakau aromatik dari Turki. Karena jenis tembakau ini di Indonesia tidak ada. Kalau di Madura adanya tembakau semi aromatik,” kata Ketua DPN APTI (Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Soeseno di Jombang, Sabtu (10/4/2021).

Soeseno datang ke Jombang dalam rangka menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) III DPD APTI Jawa Timur yang dihelat di ruang Bung Tomo Pemkab setempat. Dalam musyawarah tersebut yang terpilih sebagai Ketua DPD APTI Jatim adalah Kamudi, petani asal Lamongan.

Soeseno kembali menjelaskan soal impor tembakau aromatik. Menurutnya impor tersebut tetap dilakukan karena tembakau aromatik tidak ada di Indonesia. Dubutuhkan lahan berkapur agar tembakau aromatik tumbuh subur.

“Semua rokok jenis premium menggunakan tembakau tersebut. Makanya impor tetap dilakukan. Karena lahan di sini tidak ada. Kalau di Turki sangat cocok karena medannya berkapur. Di Madura ada, tapi semi aromatik,” lanjut Soeseno.

Selain aromatik, tembakau yang masih impor adalah jenis white burley. Tembakau jenis tersebut dibutuhkan karena daya bakarnya bagus. Namun lahan yang cocok ditanami white burley hanya di Lumajang.

“Tentu saja, kalau hanya dari Lumajang tidak bisa mencukupi kebutuhan nasional. Sehingga kita masih impor tembakau white burley. Tembakau lain yang kita masih impor adalah jenis virginia flue cured,” ujar Soeseno merinci.

Ketua DPN APTI Soeseno (kanan) menyerahkan jaket kepada Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab, Sabtu (10/4/2021). [Foto/Yusuf Wibisono]
Menurut Soeseno, varietas virginia ini dulunya pernah ada di Jatim. Namun saat ini tida ada lagi. Kemudian ada lagi Nusa Tenggara Barat (NTB). Akan tetapi produksinya berkurang memang berkurang. Karena ada permasalahan dalam proses pengeringan atau oven.

“Kalau dulu pengeringan menggunakan bahan bakar minyak tanah. Kemudian minyak tanah tidak ada, diganti batu bara. Permasalahan kita di bahan bakar, kalau di luar negeri sudah menggunakan energi listrik. Jadi lebih cepat,” sambungnya.

Berapa volume tembakau impor tersebut? Soeseno menjelaskan, tembakau jenis aromatik yang masuk ke Indonesia kisaran 30 hingga 40 ribu ton. Sedangkan jenis tembakau virginia mencapai 70 ribu ton.

“Data tahun 2017, kebutuhan tembakau virginia di Indonesia sebesar 102 ribu ton. Dari jumlah tersebut besaran impor mencapai 70 ribu ton. Karena kita tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut,” pungkas Soeseno. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar