Ekbis

Imbangi Jalan Tol, Pengusaha Minta Dermaga Diperbanyak

Surabaya (beritajatim.com) – Tuntasnya pembangunan sejumlah ruas tol di Indonesia ternyata berimbas pada pengusaha penyeberangan. Hal ini berdampak turunnya pendapatan pengusaha penyeberangan.

Pengusaha penyeberangan minta pemerintah memperhatikan kondisi ini. Bahkan para pengusaha mengatakan hal ini bisa menjadi bom waktu jika tidak diimbangi dengan pembangunan dermaga di setiap wilayah.

Kalau sekarang misalnya, di Pelabuhan Merak-Bakauheni hanya ada 6 pasang dermaga. Itu kurang. Dengan 71 dermaga dibagi 5 kapal maka minimal harus 14 dermaga.

“Akan ada bom waktu bila pembangunan tol ini tidak dibarengi dengan pembangunan dermaga di pelabuhan penyeberangan. Ini betul-betul merupakan bom waktu dan saya yakin Pak Presiden pasti tidak ada yang memberi masukan secara langsung,” kata Ketua umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, di Surabaya, Kamis (4/7/2019).

Dia mencontohkan di Sumatra. terjadi botle neck saat uji coba pada ngkutan Lebaran kemarin. Dan diprediksi akan terjadi kemacetan parah karena pembangunannya belum sampai ke daerah tanjung api api Sumatra.

Menurutnya, kebutuhan pembangunan infrastruktur jalan tol Trans Jawa, jalan tol Trans Sumatera maka dibutuhkan pembangunan infrastruktur dermaga yang memadai. Saat ini mengalami over supply armada kapal penyeberangan di hampir seluruh lintasan penyeberangan di Indonesia.

“Kami rata-rata hanya beroperasi dalam satu bulan tidak lebih dari 12 hari. Nah ini tentu merupakan sebuah kemubaziran yang luar biasa,” ungkapnya usai penutupan rapat kerja nasional ke III gabungan pengusaha nasional angkutan sungai, danau, dan penyebrangan di Hotel Bumi, Surabaya.

Masalah keselamatan pelayaran menurutnya, bisa tercipta apabila iklim usaha yang kondusif di industri pelayaran penyeberangan ini bisa tercipta. Yakni keseimbangan antara jumlah demand suplay itu. Ditambahkan, untuk usulan penambahan dermaga juga diperlukan hampir di semua lintasan penyeberangan.

“Jadi kalau terlalu banyak kapal akan sangat sulit. Kemudian keseimbangan antara Armada dengan dermaganya ini tentu dermaganya harus mencukupi dan yang terakhir,” tutur Khoiri.

Di moda penyeberangan ia mengklaim telah melakukan pembuktian. Dengan memberikan layanan yang bisa diandalkan. ” Dengan tetap melayani selama 24 jam, 7 hari dan 365 hari dan itu dengan harga tiket yang tidak ada kenaikan sejak tahun 2017,” ungkap Khoiri. [way/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar