Ekbis

HKTI Jember: Jangan Hanya Ojol, Petani Juga Perlu Dipikirkan

Jember (beritajatim.com) – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, meminta kepada pemerintah agar juga memikirkan nasib petani di tengah masa pandemi Covid-19. HKTI mengingatkan, bahwa kebutuhan pangan nasional tergantung pada petani.

“Korban PHK,Ojol, usaha mikro kecil menangah yang terimbas corona dipikirkan. Petani yang jelas-jelas penopang kedaulatan pangan agar rakyat tak kelaparan, jangan sampai luput dari perhatian,” kata Ketua HKTI Jember Jumantoro, Rabu (15/4/2020).

Jumantoro mengatakan, petani menginginkan adanya Jaminan harga yang menguntungkan, alokasi pupuk subsidi sesuai kebutuhan, dan bantuan sarana yang menunjang. Apalagi serangan hama dalam musim tanam kemarin membuat sebagian sawah petani mengalami penurunan produksi. “Yang parah lagi, harga gabah jatuh. Gabah kering panen di tingkat petani hanya Rp 3.500 – 4.000 per kilogram. Padahal ketentuan pemerintah, GKP itu Rp 4.200 per kilo,” katanya.

Menurut Jumantoro, petani berharap pada saat panen musim ini, harga gabah berkisar pada Rp 4.500 – 5.000. “Sehingga petani bisa menikmati keuntungan di tengah terjadinya penurunan produksi. Harga gabah satu bulan lalu masih Rp 4.500 – 5.000,” katanya.

Jumantoro menjelaskan, jika produksi hanya lima ton gabah, maka petani hanya mendapatkan Rp 17 juta. “Petani untung tapi sangat sedikit. Kalau satu hektare, petani hanya untuk Rp 3-5 juta. Tapi itu kan harus menunggu empat bulan. Padahal luas sawah petani hanya 0,4 – 0,5 hektare,” katanya.

Apa yang membuat harga GKP tidak ideal? “Alasan pedagang karena varietas, kedua karena cuaca. Bulog tidak membeli langsung GKP, tapi hanya membeli gabah kering giling (GKG). Padahal petani sulit mengeringkan gabahnya karena tidak punya lantai jemur,” kata Jumantoro.

Cuaca yang tak bersahabat karena hujan sering mengguyur juga menjadi salah satu faktor harga gabah. Saat ini pemilik lantai jemur gabah adalah penggilingan-penggilingan besar yang punya fasilitas pengering. “Ketahanan pangan kita hancur, pada saat stok pangan ada di swasta, bukan di negara,” kara Jumantoro. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar