Iklan Banner Sukun
Ekbis

Harga Telur Anjlok, Peternak di Ponorogo Wadul Dewan

Hearing antara komisi B dengan perwakilan peternak dan perwakilan dinas terkait. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Puluhan peternak ayam petelur di Ponorogo melakukan hearing dengan komisi B DPRD Ponorogo. Sejumlah tuntutan peternak yang mengatasnamakan, Perkumpulan Peternak Ayam Petelur Ponorogo (PPAPP) itu, diutarakan kepada wakil rakyat pada hari Selasa (28/9) di ruang Banggar DPRD Ponorogo.

Selain dari Komisi B, hearing juga diikuti perwakilan dinas terkait, yakni Dinas Perdagkum, Dispertahankan dan Dinsos P3A Ponorogo. Wadulnya para peternak ayam petelur ini, tidak lain karena murahnya harga telur di pasaran.

“Kami menemui anggota dewan hari ini, mau menyampaikan beberapa poin permohonan dari peternak,” kata Ketua PPAPP, Eny Kustianingsih, Selasa (28/9/2021).

Dalam jangka pendek misalnya, pemerintah supaya bisa mengurangi masalah yang mengakibatkan harga telur saat ini yang anjlok. Melalui dorongan dari kalangan dewan, keinginan peternak, pemerintah setempat untuk membuat peraturan daerah terkait dengan produk lokal.

“Seperti halnya beras, kami juga menginginkan PNS setiap bulannya, bisa membeli telur 10 butir tiap bulannya kepada peternak lokal Ponorogo,” katanya.

Ke depan, pemerintah daerah bisa memfasilitasi untuk disediakan bazar untuk peternak lokal di tempat-tempat wisata di Ponorogo. Selain ini juga memfasilitasi kegiatan-kegiatan Pemerintah. “Hearing kali ini, kami cukup puas, permohonannya ditindaklanjuti oleh pihak dewan maupun dinas terkait,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi B DPRD Ponorogo, Ribut Riyanto mengungkapkan selain perwakilan peternak, dalam hearing itu juga dihadirkan leading sektor terkait. Yakni Dinas Perdakum, Dipertahankan, dan Dinsos P3A.

“Hearing ini tadi minus dari Bulog yang belum hadir. Setelah ini akan kita hadirkan, akan didiskusikan tentang anjloknya harga telur ini,” katanya.

Jangka pendek, untuk sedikit mengurai permasalahan anjloknya harga telur ini, Dinsos sudah siap membeli telur kepada peternak lokal Ponorogo untuk kebutuhan penyaluran BPNT di bulan Oktober nanti.
Sementara untuk menstabilkan harga, Ribut menilai perlu ada langkah kongkrit. Dimana tidak serta merta bisa diselesaikan dalam waktu yang cepat. “Saat pandemi seperti ini, harga telur bisa naik turun,” katanya.

Untuk penyelesaian jangka panjangnya, menurut Ribut perlu dilakukan duduk bareng antara kalangan dewan dengan eksekutif. Perlu diskusi dimana goalnya untuk melindungi peternak lokal. Memahami kondisi kawan-kawan peternak ini, tentu tidak bisa ditentukan pada hari ini juga. “Termasuk permintaan teman-teman peternak yang menginginkan pemerintah menerbitkan perbub terkait produk lokal,” pungkasnya. (end/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar