Ekbis

Harga Rendah, Petani Biarkan Hasil Panen Tomat Membusuk

Kediri (beritajatim.com) – Sejumlah petani di Kabupaten Kediri membiarkan hasil panen tomatnya membusuk di sawah. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena harga komoditas sayur dan buah tersebut anjlok. Dimana, di tingkat petani, tomat hanya dihargai Rp 1.000 per kilogram.

Menurut Charis, petani asal Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, harga tomat sangat rendah. Bahkan, sejak sebulan terakhir mencapai harga paling buruk Rp 500 per kg. Oleh karena itu, ia dan petani lain enggan untuk memanen.

Harga tomat, imbuh Charis tak sebanding dengan biaya pertanian yang dikeluarkan. Selain, biaya tanam mulai dari benih dan upah pekerja, petani harus mengeluarkan biaya perawatan seperti pupuk dan plastik penutup tanaman. Untuk itu, hasil panen dari lahan seluas kurang lebih 1 hektar diabiarkan membusuk.

“Kalau dihitung mulai pengolahan tanah, pembelian bibit, hingga pupuk lumayan besar sehingga dengan harga tomat Rp 500 per kilogram jelas tidak impas,” ucapnya.

Bahkan, kalau petani meminta bantuan orang lain (buruh) untuk memanen tomat, harga penjualan tomat tidak cukup untuk membayar upah buruh.

“Kalau dipanen ya keluar biaya lagi. Kita harus membayar orang untuk memetik satu persatu tomat ini. Belum lagi saat telah dipetik kita masih perlu mendistribusikannya ke pengepul maupun pasar dan itu butuh biaya lagi. Kalau dihitung-hitung justru rugi kalau kita berniat untuk jual dengan rincian biaya tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Charis mengaku, murahnya harga tomat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya di waktu panen raya dan tingkat daya beli masyarakat menurun akibat Covid-19.

Atas hal inipun membuatnya hanya bisa pasrah dan membiarkan tomat-tomat yang telah siap panen tersebut dibiarkan membusuk atau mengering hingga sendirinya. [nm/ted].





Apa Reaksi Anda?

Komentar