Iklan Banner Sukun
Ekbis

Harga Rajungan Terjun Bebas, Pengusaha Lamongan Lakukan Siasat Ini

Para pekerja saat melakukan kupas daging rajungan, di UD. Untung Paciran, Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Dalam beberapa hari terakhir ini, harga rajungan di pasaran mengalami terjun bebas.

Oleh sebab itu, sejumlah pengusaha atau penyuplai rajungan terpaksa mensiasatinya dengan tidak mengambil keuntungan agar nelayan tak merugi dan tetap bisa bekerja.

“Untuk sementara kita tidak mengambil profit dulu, artinya profit itu biarkan diambil oleh nelayan dulu, yang penting kita bisa jalan, sembari menjaga irama pemasokan,” ujar salah satu pelaku bisnis rajungan di Paciran, Diki Utomo kepada wartawan, Rabu (25/5/2022).

Menurut Diki, untuk saat ini harga rajungan hanya berkisar Rp 40 ribu per kilogram. Sedangkan untuk daging rajungan hasil kupasan (uplik:red jawa) hanya berkisar Rp 160 ribu per kilogram. Padahal sekitar 6 bulan yang lalu, kata Diki, harga rajungan mencapai Rp 130 ribu.

Para pekerja saat melakukan kupas daging rajungan, di UD. Untung Paciran, Lamongan.

Dengan kondisi tersebut, Diki mengaku, nelayan rajungan di Paciran akan sangat terdampak jika para pengusaha masih memaksakan untuk mengambil keuntungan.

“Kita tidak memaksakan diri, kita juga mendengarkan keluhan nelayan, artinya dengan harga segitu yang penting kita masih bisa bertahan dulu dan nelayan bisa dapat keuntungan, serta tetap bisa menjalankan aktivitas kerjanya,” terangnya.

Tak hanya itu, Diki menambahkan, anjloknya harga rajungan ini berakibat pada pengurangan jumlah pekerja di tempat usahanya. Meski begitu, untuk upah bagi pekerja ini masih tetap sama, seperti saat harga belum anjlok.

“Yang paling terimbas ini adalah nelayan, karena dengan harga segitu, biaya operasional melaut nelayan terpangkas dan tak mencukupi jika digunakan untuk pergi melaut. Makanya kita tetap membeli rajungan dari nelayan dengan harga yang pas agar mereka tak rugi,” paparnya.

Diki menduga, turunnya harga rajungan ini lantaran negara pengimpor rajungan terbesar, yakni Amerika mengalami inflasi yang mencapai 9 sampai 10 persen. Sehingga permintaan rajungan dari Amerika pun mengalami penurunan.

“Anjloknya harga ini juga biasanya setelah terjadinya pick harga, kemarin itu kan ada pick harga, tinggi sekali, biasanya nanti malah jatuh harganya. Pasar kita memang kebanyakan untuk Amerika, 70 persen. Sisanya ada yang ke eropa dan beberapa negara asia,” jelasnya.

Sebagai tambahan pendapatan bagi puluhan pekerjanya, Diki juga mengaku bahwa limbah atau sampah dari pengupasan rajungan di tempat usahanya ia serahkan pemanfaatannya kepada pekerja.

Para pekerja saat melakukan kupas daging rajungan, di UD. Untung Paciran, Lamongan.

Limbah itu bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi pakan ternak hingga kosmetik. “Untuk limbahnya nanti ada pengolahan cangkang yang kemudian masuk ke pabrik pakan dan kosmetik. Insangnya juga untuk pengolahan pakan ternak, sebagai tambahan bagi pekerja,” sambungnya.

Lebih jauh, Diki menceritakan bahwa bisnis rajungan ini dirintis oleh mertuanya sejak 1998. “Dulunya UD.Untung ini dirintis oleh mertua saya, Alm H. Rozikin, kalau saya mulai aktif bekerja di sini sejak 2006. Setiap hari di sini mampu menghasilkan 100 sampai 200 kilogram rajungan,” tandas Diki yang juga berharap harga rajungan bisa kembali normal.[riq/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar