Iklan Banner Sukun
Ekbis

Harga Minyak Naik, Ukuran Jemblem di Mojokerto Menyusut

Mojokerto (beritajatim.com) – Harga minyak goreng naik sejak beberapa pekan dikeluhkan para pedagang gorengan di Mojokerto. Salah satunya penjual jemblem, kue tradisional terbuat dari bahan dasar singkong di Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Penjual jemblem Farid Kristanto (30) mengatakan, harga minyak naik sejak tiga pekan lalu. “Naiknya itu langsung, tidak bertahap. Langsung tinggi. Saya pakai minyak goreng kemasan, harga normal per 2 liter Rp30 ribu. Sekarang mencapai Rp40 ribu per liter, sejak 3 minggu lalu,” ungkapnya, Selasa (28/12/2021).

Untuk menyiasati harga minyak goreng, masih kata bapak satu anak ini, ia memperkecil ukuran. Meski ukurannya dikurangi, namun ia mengaku tidak berpengaruh ke penjualan. Penjualan masih wajar, dalam sehari ia menghabiskan 1,7 kwintal singkong dan saat Sabtu-Minggu sampai 2 kwintal.

“Saya kurangi ukurannya, ya sewajarnya. Tidak ada pengaruh karena semua orang merasakan dampaknya, apalagi ibu-ibu. Mereka paham. Sehari saya habis 1,7 kwintal singkong, Sabtu-Minggu bisa sampai 2 kwintal. Untuk 2 kwintal singkong, minyak yang dibutuhkan 2 karton,” katanya.


Dua karton, lanjut Farid, ada enam kemasan dengan masing-masing kemasan isi 2 liter minyak goreng. Meski bahan dasar singkong sudah ada suplayer yang mengirim, namun kadang juga kosong. Jika kondisi kosong maka ia libur karena singkong tersebut hanya diambil dari satu daerah saja.

“Saya ambil dari Desa Tampung Rejo, Kecamatan Puri. Selain dari situ, singkongnya kurang bagus. Hasilnya kata orang-orang ‘ngenyong’, tidak punel. Jadi kalau tidak ada singkongnya, ya tutup selain saya tutup di hari Jumat karena sungkan dari daerah lain tidak bagus di hasilnya,” jelasnya.

Ia mengaku singkong tersebut dari rekomendasi sang kakak yang juga berjualan jemblem. Ini lantaran usaha jemblem tersebut merupakan usaha keluarga turun-temurun mulai dari sang nenek, ibu dan generasi ketiga, Farid dan sang kakak. Penjualan jemblem tersebut selain di Jatirejo juga ada di Pacet.

“Kakak saya jualan di Pacet, melayani wisatawan yang wisata rafting. Kakak jualan lebih dulu dan merekom singkong dari Tampung Rejo ini. Meski kadang libur karena singkongnya tidak ada, harga masih stabil tidak naik. Meskipun kondisi pandemi Covid-19, penjualan masih aman,” ujarnya.

Karena selama pandemi Covid-19, ia tidak pernah libur. Harga jemblem masih sama Rp1 ribu per biji meski dengan ukuran lebih kecil, namja masih banyak pelanggan. Menurutnya selain dari Mojokerto, langganan jemblemnya sampai luar kota. Seperti Sidoarjo, Jombang hingga Madura.

“Buka jam 8 pagi sampai habis, biasanya belum sampai Dzuhur sudah habis. Sekarang saya ada 3 karyawan yang bantu saya. Mulai dari yang membersihkan singkong, giling dan goreng. Kalau yang bentuk saya kerjakan sama istri, mertua, adik dan dibantu satu orang,” tuturnya.

Jemblem buatan suami Tania Falentina ini terkenal memiliki tekstur lembut di bagian dalam dan krispi di bagian luar. Berbentuk bulat mirip onde-onde, kue khas Kota Mojokerto dengan isian gula merah. Sehingga saat digigit akan keluar gula merah yang meluber karena kena panas setelah digoreng.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sudah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng kemasan sederhana sebesar Rp11 ribu per liter. Namun harga minyak curah di Mojokerto mencapai Rp18.766 per liter. [tin/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar