Ekbis

Harga Kedelai Impor untuk Bahan Baku Tahu Tempe Tak Stabil

Salah seorang perajin tahu di Kelurahan Ledok Kulon, Kabupaten Bojonegoro menata tahu yang siap jual.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Kedelai sebagai bahan baku makanan kaya protein, seperti tahu dan tempe berasal dari bahan impor. Namun, belakangan harga kedelai impor itu tidak stabil sehingga mempengaruhi pendapatan para perajin tahu dan tempe di Bojonegoro.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir harga kedelai impor tidak pernah stabil. Selalu mengalami naik turun. Belakangan harga komoditas pertanian itu mengalami kenaikan. Alhasil keuntungan perajin tahu dan tempe mengalami penurunan.

Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Kabupaten Bojonegoro Arifin mengatakan, naik turunnya harga kedelai impor ini sangat berpengaruh dengan nilai laba para perajin. Kenaikan maupun penurunan harga kedelai impor itu tidak bisa dikendalikan oleh para perajin.

“Kenaikan harga kedelai impor dipengaruhi naiknya nilai tukar dolar Amerika. Sejak lima tahun terakhir, jadi ya harganya tidak pernah stabil,” katanya, Rabu (26/2/2020).

Sejak 2014, kenaikan maupun penurunan harga kedelai ini berkisar antara Rp 6.200 per kilogram hingga tertinggi Rp 8.200 per kilogram. Pada 2019 harga kedelai sebesar Rp 6.350 per kilogram dan pada 2020 naik hingga Rp 7.200 per kilogram. Dari kenaikan harga kedelai itu, menurut dia, keuntungan berkurang hingga 20 persen.

Meski mengalami kerugian hingga 20 persen, menurut dia, para perajin tahu dan tempe yang menjadi anggotanya dengan jumlah sekitar 150 orang di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Kota, itu tidak berani menaikkan harga jual kepada konsumen. “Jalan satu-satunya dengan mengecilkan porsi,” tukasnya. [lus/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar