Ekbis

Harga Gula di Mojokerto Tak Terkendali, Satgas Pangan Turun

Tim Satgas Pangan sidak Pasar Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto pada, Kamis (9/4/2020) kemarin. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kabupaten melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar di Kabupaten Mojokerto, Kamis (10/4/2020) kemarin. Ini menyusul harga gula di pasaran tembus Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, angka ini melebihi Harga Eceran tertinggi (HET) gula Rp12.500 per kilogram.

Tim Satgas Pangan terdiri dari Kepolisian, Satuan Polisi Pamong (Satpol PP), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Dinas Pertanian (Dispari) mengecek harga gula. Tak hanya ke pasar, tim juga ke Pabrik Gula Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto yang menjadi salah satu produsen gula di Mojokerto.

Kanit Pidek Satreskrim Polres Mojokerto, Ipda Heru Prasetyo Nugroho mengatakan, secara umum, harga sembilan bahan pokok (sembako) di wilayah Kabupaten Mojokerto masih stabil. “Kecuali Gula. Tingginya harga gula di pasaran ini sebenarnya sudah terjadi beberapa pekan terakhir. Per kilonya stagnan dikisaran harga Rp17 ribu sampai 18 ribu lebih,” ungkapnya, Jumat (10/4/2020).

Masih kata Kanit, hingga sejauh ini tim belum mengetahui faktor penyebab kenaikan harga gula di pasaran. Karena hasil pantauan di sejumlah pasar, lanjut Kanit, harga tinggi sudah didapat para pedagang dari distributor. Yakni, sekitar Rp16.700 per kilo. Sementara pihak distributor juga sudah mendapatkan harga dari investor tinggi.

“Ketersediaan barang ada dan tersedia. Cuma tinggi, khusus untuk gula. Kalau yang lainnya, stabil karena ada barang masuk. Di level bawah dipastikan tidak ada permainan soal harga tapi untuk level atas, kita tidak tahu. Seperti di Mojosari dan Bangsal, gula di pasok dari PG di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sehingga harga sudah tinggi,” katanya.

Kanit menjelaskan, hasil koordinasi dari PG Gempolkrep untuk produksi gula tahun 2019 lalu lelangnya normal. Pihaknya masih melakukan penelusuran terkait mahalnya harga gula di pasaran, ini lantaran ketersediaan barang tidak langka dan di pasar ada namun harga di pasaran tinggi.

Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan, Dispari Kabupaten Mojokerto, Rofi Rosa membenarkan, jika harga gula saat ini memang sudah melampaui HET gula berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 Tentang Harga Acuan, yakni Rp12.500 per kilogram. “Permendagnya tidak berubah HET-nya gula Rp12,5 ribu per kilo,” ujarnya.

Menurutnya, dengan tingginya harga gula di pasaran, pemerintah tidak bisa intervensi secara langsung karena sudah menjadi mekanisme pasar. Pemerintah hanya bisa menghimbau dan melakukan operasi pasar dalam upaya menstabilkan harga. Namun, dengan kondisi saat ini Operasi Pasar (OP) dianggap tidak maksimal lantaran akan mengundang kerumunan massa.

“Jadi belum bisa melakukan OP, sebenarnya OP bisa untuk menstabilkan harga. Tapi metode pasar murah itu tidak mungkin dilaksanakan, karena ada aturan terkait Covid-19 itu, jadi tidak bisa,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Mojokerto, Pungkasiadi menambahkan, meski harga gula di pasaran tinggi namun pihaknya menilai OP belum dilakukan karena dianggap belum parah. “Intervensi pusat, pemda tidak bisa apa-apa. Jika ada OP hanya satu produk saja dan OP tidak bisa membuat harga murah. Ngomong gula memang kebutuhan nasional dan mencari tidak mudah. Saat ini barang ada tapi tidak banyak,” tegasnya.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar