Ekbis

Harga Cabai Anjlok, DTPHPKP Magetan Beberkan Sebabnya

Anjloknya harga cabai di Magetan membuat petani hanya bisa pasrah

Magetan (beritajatim.com) – Panen raya bulan Agustus membuat harga cabai terjun bebas. Lantaran, melimpahnya barang, meski permintaan dari konsumen tidak terjadi kenaikan. Alhasil, harga mulai turun tepatnya sejak pertengahan Agustus.

Hal itulah yang jadi dugaan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan. Bahkan berimbas pada semangat petani untuk memelihara tanamannya.

“Untuk panen di Agustus saja ada 726 ton cabai besar dan 120 ton cabai rawit. Dari masing-masing 132 hektar dan 35 hektar lahan di enam kecamatan,” terang Hernik Kartikawati, Kasi Sayuran dan Tanaman Obat, Bidang Hortikultura dan Perkebunan DTPHPKP Magetan, Selasa (31/8/2021)

Itupun masih ada panen lagi yang diperkirakan dilakukan pada September. Yakni kira-kira 100 hektar lahan cabai besar dan 20 hektar cabai rawit. Hernik merinci ada enam kecamatan yang terdapat lahan cabai. Yakni Parang, Plaosan, Panekan, Sidorejo, Bendo, Sukomoro.

“Di lima kecamatan harga cabai memang mencapai titik terendah, yakni Rp 5 ribu per kilogram untuk cabai besar, dan Rp 9 ribu per kilogran untuk cabai rawit,” katanya.

Kecamatan Parang menjadi pengecualian, karena harga cabai keriting masih sempat menyentuh angka Rp 15 ribu. Hernik menyebut bahwa wilayah Parang memiliki jadwal tanam yang berbeda. Mereka memulai musim tanam pada akhir tahun.

“Mereka menerapkan sistem tadah hujan. Sehingga, panen mereka juga tak bersamaan dengan panen raya. Ssehingga harga masih bisa bagus,” terangnya.

Hernik memaparkan, sejatinya tanaman cabai bisa produktif selama kurun waktu maksimal empat bulan untuk cabai besar. Sedangkan cabai rawit maksimal delapan bulan. Selama itu bisa dipanen puluhan kali tergantung dari produktifitas.

“Harga jual bisa tinggi kalau cabai dipetik saat warnanya merah. Kami sudah sarankan demikian pada para petani,” pungkas Hernik. [fiq/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar