Iklan Banner Sukun
Ekbis

Hanya Modal Rp 50 Ribu, Vokalis Metal Ini Sukses Rintis Usaha Bonsai Kelapa

Bonsai Kelapa Karakter karya Purnomo yang dipajang di Galeri Bonkla miliknya.

Lamongan (beritajatim.com) – Dengan peminat bonsai kelapa yang semakin banyak, peluang tersebut dimanfaatkan oleh Purnomo, pemuda asal Desa Kaligerman Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan, untuk memulai usaha tanaman kerdil berupa bonsai kelapa tersebut.

Meski awalnya Purnomo kurang berminat dan terganjal persoalan modal, namun seiring berjalannya waktu ia mampu merintis usahanya tersebut hingga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Bahkan, kini ia juga telah memproduksi bonsai kelapa dengan beragam karakter yang berjajar di halaman rumahnya.

Purnomo saat melakukan perawatan bonsai kelapa di Galeri Bonkla miliknya, di Desa Kaligerman Kecamatan Karanggeneng Kabupaten Lamongan

“Usaha ini saya mulai sejak tahun kemarin, tepatnya tanggal 4 Desember 2020. Hanya bermodalkan uang Rp 50 ribu saja. Awalnya kurang berminat, tapi karena perkembangan, melalui cari-cari referensi lewat komunitas, dari situ akhirya banyak belajar,” ungkap Purnomo saat diwawancarai, Minggu (14/11/2021).


Mengenai pilihannya untuk lebih fokus pada bonsai kelapa karakter ini, Purnomo mengatakan, hal itu lantaran peminatnya lebih banyak daripada yang lain. Kendati demikian, ia juga mengembangkan bonsai kelapa yang original di Galeri Bonkla (Bonsai Kelapa Lamongan) miliknya.

Bonsai Kelapa Karakter karya Purnomo yang dipajang di Galeri Bonkla miliknya.

“Saya lebih fokus ke bonsai karakter, kayak boneka-boneka, karena lebih banyak peminatnya. Walaupun untuk bonsai kelapa yang original saya juga buat banyak,” kata pemuda berusia 34 tahun tersebut.

Untuk proses pembuatannya, Purnomo menjelaskan, ia mulai dengan mencari bahan baku di lingkungan sekitar desanya. Setelah memilah bahan baku yang tepat, kemudian dilanjutkan ke tahap pengeringan bahan untuk kemudian dilakukan pembibitan bonsai kelapa.

“Untuk bahan bakunya saya nyari sekitar kampung sini saja, kalau nggak kelar ya cari ke online biasanya. Pemilihan bahan itu harus tua di pohon dulu, baru bisa dibuat bahan, dikeringkan dulu baru masuk ke tahap pembibitan, paling tidak sekitar 3 minggu sampai sebulan, nanti baru menetas atau tumbuh tunas,” terangnya.

Sementara untuk media tanamnya, Purnomo mengaku, bahwa ia menggunakan media pasir laut, sekam, dan kompos. Hingga kini, lanjut Purnomo, koleksi bonsai kelapa di rumahnya sudah mencapai ratusan, terdiri dari berbagai karakter, yang ia susun dengan rapi dan ia tanam di berbagai macam pot.

“Untuk pembibitan dan perawatan bonsai-bonsai kelapa ini, saya lakukan sendiri. Dalam satu bulan, untuk yang bonsai karakter rata-rata saya bisa memproduksi 10 sampai 15 bonsai kelapa karakter,” imbuh pemuda yang menyukai musik metal tersebut.

Bonsai Kelapa Karakter karya Purnomo yang dipajang di Galeri Bonkla miliknya.

Lebih lanjut mengenai pasarnya, Purnomo mengungkapkan, untuk sementara ia hanya melayani penjualan dan permintaan dari beberapa daerah yang ada di pulau Jawa. “Untuk luar Jawa belum berani, resiko untuk kelamaan di paket dan pengirimannya. Kalau di Jawa sih kita jamin, seminggu masih mampu,” smabungnya.

Menurut Purnomo, bisnis bonsai kelapa ini merupakan usaha yang spesial. Pasalnya, mulai dari bibit sampai yang sudah jadi bisa dijual semuanya. Lalu untuk harga, kata Purnomo, tergantung keunikan, size dan kualitas dari bonsai kelapa itu sendiri.

“Yang umur sebulan hingga 2 bulan sudah bisa dijual, cuman kalau kisaran harga memang lebih mahal untuk yang sudah jadi, yakni sekitar 5-6 bulan yang bagus. Kisaran harga sih sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 500 ribu yang karakter, sudah siap satu set ibaratnya. Dilihat keunikan dan kesehatan daunnya. Semakin kerdil maka semakin bagus dan mahal,” bebernya.

Proses perkedilan daun bonsai kelapa tersebut, Purnomo menambahkan, telah ia lakukan sejak pembibitan itu dilakukan. “Rata-rata kalau pembibitan melalui media air itu sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu sudah dapat, yakni yang berumur sekitar 1 bulan hingga 1 bulan setengah,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai omset pasti dari usaha bonsai kelapanya, Purnomo mengatakan jika omset tersebut tak menentu. Menurutnya, semakin sering posting atau mengunggah bonsainya ke market place, maka semakin banyak pula yang berminat untuk membeli produknya.

“Pembelinya kebanyakan ibu-ibu rumah tangga, biasanya untuk hadiah, bahkan juga dari instansi pemerintahan, untuk dipajang di kantor,” ujar Purnomo.

Selanjutnya di musim hujan seperti ini, Purnomo menjelaskan, jika hal tersebut justru lebih bagus bagi bonsai kelapa. Sedangkan untuk musim kemarau, tambah Purnomo, harus ditaruh ke tempat yang lebih lembab.

“Untuk perawatannya sih simpel, cuman main air saja dan rutin penjemurannya, seminggu paling 2 sampai 3 kali, di taruh di ruang tamu, sudah. Biasanya juga dikasih penyedap rasa sih, sebulan sekali. Namun saat musim kemarau, hindari terkena panas secara ekstrem, karena bisa menyebabkan rusak atau kering,” jelasnya lagi.

Terakhir, Purnomo berharap, bahwa peminat bonsai kelapa karyanya akan semakin banyak. Selain itu, ke depan akan ada lebih banyak event seperti kontes maupun pameran bonsai kelapa yang bisa digelar.

“Harapan ke depan, secara pribadi saya ingin bonsai kelapa ini bisa dikonteskan, terus juga rutin bisa kopdar dan ada pameran, karena sayang sih, rugi kalau punya karya tapi tidak ditampikan,” pungkas pria yang saat ini aktif di BKI (Bonsai Kelapa Indonesia) dan BCL (Bonsai Coconut Lamongan), komunitas lokal yang memulai pergerakannya di Lamongan.

Sekadar informasi, sebelum menekuni bonsai kelapa ini, Purnomo dulunya juga aktif di komunitas musik Underground. Ia bahkan juga menjadi vokalis musik band metal, dan beberapa kali membuat rilisan kaos maupun aksesoris komunitas Underground. [riq/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar