Ekbis

Global Wakaf ACT bersama YP3I Gebyar Panen Padi 500 hektar Sawah di Mojokerto

Gebyar Panen Padi 500 hektar Sawah di Dusun Tumpangsari, Desa Jiyu, Kecamatan Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Global Wakaf ACT bersama Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) dan Gema Petani menggelar Gebyar Panen Padi 500 hektar Sawah di Dusun Tumpangsari, Desa Jiyu, Kecamatan Kabupaten Mojokerto. Dari setiap satu hektar menghasilkan 16 ton per hektar.

Sawah seluas 500 ha ini tersebar di lima kabupaten di Jawa Timur, yaitu Mojokerto, Sidoarjo, Ponorogo, Pasuruan dan Malang. Padi yang dipanen kali ini merupakan hasil penanaman pada bulan Desember 2020 lalu. Ini menjadi panen pertama di Jawa Timur (Jatim) yang mana sawah dan proses produksi taninya didanai dari wakaf.

Intervensi pengelolaan Wakaf Sawah Produktif (WSP) produksi tani dimulai sejak pembibitan. Bibit yang digunakan adalah jenis HMS700, yang mana dalam satu malai dapat mencapai 700 bulir. Saat pemeliharaan, para petani juga diberikan biaya dan akses untuk mendapatkan pupuk sehingga kualitas padi terjaga dan mendapatkan hasil maksimal.

Presiden Aksi Cepat Tanggap, Ibnu Khajar mengatakan, gabah yang dipanen juga akan dibeli ACT dengan harga terbaik untuk pendistribusian beras bagi warga prasejahtera selama Ramadhan, melalui Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan (GSPR) dan aksi-aksi kemanusiaan lainnya. “Kita akan beli Rp200 di atas pasaran, itu komitmen kami,” ungkapnya, Sabtu (10/4/2021).

Masih kata Ibnu, hal ini membuktikan bahwa wakaf dapat menjadi motor penggerak dalam menyejahterakan petani. Panen kali ini menjadi oase di tengah isu rencana ekspor beras. Kebijakan ekspor beras jelas mengancam penyerapan hasil para petani. Akibatnya, harga padi jatuh dan tak dapat menutupi modal yang telah dikeluarkan para petani lokal.

“Kita bertekad memperjuangkan kesejahteraan para petani dan menghargai jerih payahnya dengan membeli gabah Rp200 lebih tinggi dari harga pasaran. Hasil panen diserap ACT untuk kebutuhan Gerakan Sedekah Pangan Ramadhan dan aksi-aksi kemanusiaan lainnya. Yakni 70 persen untuk petani dan 30 persen untuk program pangan,” katanya.

GSPR akan meluaskan pendistribusian Beras Wakaf yang merupakan hasil panen sawah di Mojokerto kali ini. Dengan memastikan suplai pangan warga prasejahtera terjaga saat ramadan, diharapkan para penerima manfaat tidak perlu khawatir kekurangan pangan untuk berbuka puasa maupun sahur.

“Rata-rata hasil panen petani di atas 12 ton per hektar, dibanding menggunakan bukan jenis HMS700 rata-rata nasional 5,7 ton sampai per hektar. Kami treatment kondisi sawah, untuk waktu tanam masih sama, tiga kali panen dalam setahun. Namun kita tingkatkan hasilnya dari 16 ton per hektar menjadi 20 hektar per ton,” ujarnya.

Harapannya, para petani bisa panen dalam setahun empat kali panen. Dua sampai tiga bulan, lanjut Ibnu, akan diluncurkan varietas baru dan akan di uji coba di beberapa tempat. Ibnu menjelaskan, panen 500 hektar Musim Tanam ke-1 (MT-1) akan didistribusikan untuk Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY. Jawa Barat dan Jakarta akan diambilkan dari Karawang dan Purwakarta.

“PR kita berikutnya, akan menggandeng multi pihak akan menggalakkan kembali dari beberapa masjid dan dikumpulkan dana wakaf dan sedekah untuk menggantikan kebutuhan biaya produksi petani. Saat ini rata-rata kebutuhan biaya produksi petani Rp15 juta sampai Rp17 juta per hektar. Akan kita galakkan,” urainya.

Ibnu menambahkan, 500 hektar merupakan target di tanam pertama. Rencananya sudah ada 1 hektar untuk jaringan Jawa Timur dan Madura serta ada sekitar 300 hektar dari jaringan TNI yang ikut dalam program tersebut. Sehingga Jawa Timur ada 5 ribu sampai 6 ribu hektar di tahun 2021.

Sementara itu, Professor Hariadi menambahkan, beberapa tempat hasil panen sudah stabil dengan rata-rata 16 ton per hektar. Sementara saat musim hujan hasil panen hanya 14,7 ton per hektar. Harapannya ke depan para petani bisa merubah sistem tanam, yang biasanya secara kimia terus tanah akan rusak.

“Untuk tanam padi ini, tanah harus recovery tanah dulu. Ini masih 25 persen tambahan NPK yang bukan NPK kimia murni, kami fermentasi sehingga ke depan tanah akan subur. Tiga kali tanam akan meningkat karena tanah sudah dikondisikan. Ada beberapa yang belum dilepas, untuk HMS700 sudah saya daftarkan ke Kementan,” tambahnya.

Wakaf Sawah Produktif ini melibatkan 3.000 petani, 22.500 tenaga kerja. Selain itu ada 2.500 pesantren yang terberdayakan dengan 23.500 santri yang menerima manfaat perbulan. Di luar itu, ada 440.474 KK yang menjadi penerima manfaat. Total sawah yang dipanen di Kabupaten Mojokerto mencapai sekitar 9 hektare dengan hasil sebanyak 110 ton.

Selain di Mojokerto, sawah di empat wilayah lain yakni Pasuruan, Malang, Ponorogo, dan Sidoarjo, dalam program Wakaf Sawah Produktif pada Musim Tanam ke-1 (MT-1) juga memasuki musim panen. [tin/ted]


Apa Reaksi Anda?

Komentar