Ekbis

Wanita-Wanita Tangguh Mencari Gas Alam (Bagian 1)

Gila!, Demi Gas Wanita Ini Rela Usahanya Gulung Tikar

Probolinggo (beritajatim.com) – Gila….sungguh gila, ini yang terbersit dibenak saya, penulis saat berkunjung ke rumah seorang ibu rumah tangga bernama Siti Saudah. Wanita yang tinggal persis di depan bendungan air di Dusun Krajan Tongas ini memiliki rumah yang cukup besar dan dengan garasi mobil yang luas sekitar 5 X 10 meter tetapi meskipun memiliki garasi yang luas hanya ada satu mobil pick up yang terparkir disana.

Siti Saudah, hari ini berdandan lebih menor dari biasanya, saat tahu ada pejabat negara dari Ibukota dan Bupati Probolinggo yang akan mengunjungi rumahnya. Sejak pagi sekali Siti Saudah dan suaminya yang sudah pensiun berupaya keras membersihkan dapur dan garasi mobil mereka. Semua benda yang tak penting disingkirkan begitu saja demi memperlihatkan citra bersih dapur dan garasi mobilnya.

“Mari masuk…mari masuk, saya sedang menggoreng iwak pindang di dapur. Monggo Ibu Bupati dicicipi masakan ndeso kami, tapi saya belum bikin sambel,” ungkapnya tersipu malu, ketika rombongan Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari dan Joko Siswanto, Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas, Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masuk ke dapur Siti Saudah melalui garasi rumahnya pada pertengahan Oktober 2019 lalu.

Bupati cantik yang akrab dipanggil Tantri ini akhirnya menyatakan jika rombongannya hanya sekadar ingin melihat cara kerja gas alam yang sudah dinikmati Siti Saudah dan ratusan tetangganya.

“Saya hanya mampir, menanyakan apakah Ibu kesulitan mengoperasikam gas alamnya?,” ungkap Tantri tersenyum simpul saat tahu kegalauan warganya yang belum membuatkan sambel untuk rombongannya.

Mendengar perkataan Tantri ada sedikit raut wajah kecewa tapi bercampur lega, disekanya peluh yang mengucur dari dahi hingga ke wajahnya, sebab Bupatinya datang dengan rombongan yang cukup banyak, walhasil dapurnya pun penuh sesak dengan orang-orang dan udara menjadi lebih panas lagi karena bercampur panasnya api penggorengan Iwak Pindangnya.
“Oalaah Bu Bupati cuma pengen liat api kompornya saja toh, saya pikir mau makan sama saya disini rame-rame,” celetuk Siti Saudah.

Rombongan Kementerian ESDM dan Bupati Probolinggo pun beranjak keluar dapur dan melihat meteran gas alam berwarna kuning yang terpampang didinding rumah Siti Saudah. Siti Saudah pun terlihat terduduk lemas karena panasnya dapur dan kakinya memang sejak pagi sudah pegal karena harus membersihkan rumahnya demi menyambut pejabat negara itu.
Saya pun menghampirinya, ada pertanyaan yang sejak tadi menggelitik benak saya.

“Ibu rumahnya besar sekali ya, garasi mobilnya juga luas. Punya mobil berapa bu?,” tanya penulis.
Sedikit tersipu, wanita berumur 50 tahunan itu menghampiri saya dan berbisik.

“Aku sebenarnya malu berterus terang, tapi ini rahasia ya mbak,” ujarnya setengah berbisik.

Apa?, Rahasia, semakin buncahlah pikiran negatif saya tentang sumber pendapatan wanita paruh baya ini.
“Saya sebenarnya agen elpiji 3 Kg. Cuma saya malu menceritakan pada petugas Jaringan Gas (Jargas) yang melakukan survey. Nanti rumah saya tidak dipasangi Jargas gratis,” ungkapnya masih dengan wajah sedikit malu.

Tak sempat menunggu lama, Siti Saudah pun sudah berbicara lagi, jika saat ini usaha agen elpiji miliknya sudah gulung tikar. Sebab semua tetangganya tidak lagi menggunakan tabung elpiji bersubsidi, sehingga dia pun menutup usahanya.

“Dan di garasi ini, tempat saya menyusun dan mengumpulkam ratusan tabung elpiji 3 Kg dulu. Makanya garasi saya luas, tapi mobilnya cuma 1 pick up, gunanya buat mengantar pesanan elpiji,” terang Siti Saudah yang akhirnya terkekeh seolah lega sudah membongkar rahasianya kepada jurnalis.

Tak ada raut kecewa apalagi marah karena usaha elpijinya bangkrut. Saudah mengaku sejak Jargas dipasang di rumahnya, semua tabung elpiji pun sudah dikembalikan ke agen besarnya. Dan kini dirinya dan suami pun beralih profesi dari agen elpiji bersubsidi menjadi pedagang di toko klontong yang baru mereka buka 3 bulan lalu.
“Alhamdulillah, saat ini toko klontong kami sudah banyak pelanggan, sedikit demi sedikit sudah ramai pembelinya,” tutur ibu 3 anak ini.

Saya pun terkaget dan berceletuk, Gila, dalam hati. Demi menikmati gas alam yang lebih murah dan selalu mengalir 24 jam dirumahnya, wanita ini rela gulung tikar. Jika agen lain, pastinya sudah berdemo kepada pemerintah karena bisnis mereka terganggu. Namun berbeda dengan Siti Saudah yang melihatnya sebagai berkah, dirinya melihat gas alam yang dialirakan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) kerumahnya adalah investasi jangka panjang yang murah.

“Pemasangannya gratis, lalu katanya bayarnya juga lebih murah. Dan saya dengar dari bapak-bapak yang memasang Jargas ini, gas nya aman dan rumah yang dipasang Jargas akan meningkat harga jualnya,” ungkap Siti Saudah.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh tetangganya Yana (30) yang mengaku tak sungkan pada Siti Saudah karena tidak lagi membeli elpiji bersubdisi lagi saat rumahnya sudah teraliri Jargas dari PGN.

“Semua warga disini senang dapat Jargas yang gratis pemasangannya dan kami harap kedepan tak ada kenaikan harga dan yang pasti tak ada lagi kelangkaan gas yang beberapa waktu lalu sempat kami rasakan,” ungkap Yana.

Ketua Komite BPH Migas, Sumiar Panjaitan, yang juga ikut dalam rombongan mengaku harga jual gas alam dipastikan berada dibawah harga elpiji. Dengan begitu harga gas alam masih akan menjadi primadona dikalangan ibu-ibu rumah tangga.

Sementara itu Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari, mengaku sangat berterima-kasih pada program pemerintah atas pemasangan Jargas gratis ke rumah tangga. Saat ini di Probolinggo sudah terpasang 2.700 jaringan gas yang siap dipakai. Dan menyusul 1.300 jaringan gas juga akan terpasang akhir Tahun 2019 ini.

“Totalnya ada 4.000 jaringan dan kami siap mendukung pemasangan 6.000 jargas baru lagi di tahun 2020 nanti. Dan saat ini ada 5 Kecamatan yang sudah terpasang Jargas yakni Sumber Asih, Tongas, Gending, Dligu dan Leces yang sudah menikmati Jargas,” ungkapnya.

Bagi Tantri sendiri keberadaan gas alam sangat membantu warga dalam menghemat biaya memasak. Harga gas alam yang lebih murah mampu menghemat biaya memasak setiap hari hingg 40 persen. Jika dulu warganya menghemat biaya gas elpiji dengan menggunakan kayu bakar dari hutan, kinj mereka tak perlu lagi melakukannya.

Joko Siswanto, Plt Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM mengaku sejak 2009 sampai 2018 sudah bangun 25.375 sambungan Jargas rumah tangga. Sampai akhir tahun sudah lebih 400 ribu Jargas yang sisanya dibangun di Bontang Kalimatan. Sedangkan di Jatim sudah ada 80 ribu sambungan rumah tangga yang terpasang.

“Ini bukan masalah angka terpasang, tetapi upaya yang lebih besar lagi yakni untuk mengurangi polusi di udara. Karena sebagian wilayah di Timur Indonesia masih menggunakan minyak tanah dan gerakan penggunaan gas alam ini adalah salah satu upaya menciptakan langit biru di Tanah Air,” tandasnya.

Agaknya Siti Saudah dan Joko Siswanto pun sepakat bahwa perubahan harus segera dilakukan. Disatu sisi Kementerian ESDM akan terus berupaya menambah pendanaan untuk Jargas, di sisi lain Siti Saudah pun harus mengubah bisnisnya demi gas alam yang lebih bersih. [rea] (bersambung….)





Apa Reaksi Anda?

Komentar