Ekbis

Gerabah Cobek Gampangsejati Lamongan, Bertahan hingga Puluhan Tahun

Lamongan (beritajatim.com) – Berbahan baku tanah liat yang dicampur air, dijemur, dibakar, lalu diiamkan selama 4 hari; gerabah alias cobek siap dibikin. Kesemuanya dibikin melalui tangan terampil Supriatun (70).

Pekerjaan ini sudah ditekuni oleh Supriatun sejak puluhan tahun lalu. Di tengah-tengah gempuran era globalisasi, sentra pengrajin gerabah di Desa Gampangsejati Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan ini tetap eksis.

Beraneka ragam ukuran gerabah dapat ditemui di sini. Mulai dari kecil hingga besar.

Harganya pun menyesuaikan ukuran. Gerabah kecil dihargai lima belas ribu rupiah, gerabah ukuran sedang dihargai dua puluh ribu rupiah, dan gerabah besar dihargai tiga puluh ribu rupiah, serta untuk gerabah ukuran jumbo dapat dibeli dengan harga dua ratus ribu rupiah.

“Kebetulan saat ini kami tidak membuat cobek karena sedang ada (slametan) hajatan, hanya saja ini sudah ada yang habis di panggang 4 hari yang lalu”, tutur Supriatun.

Sedangkan untuk pemasaran, cobek ini dibeli oleh para pemilik warung makan pecel lele di Semarang, Lamongan, Jakarta, hingga Kalimantan. Tetapi adanya Covid-19 aktifitas tersebut berhenti sementara. Sehingga pemasaran hanya dilakukan mandiri oleh pembuat gerabah.

Dari ketekunan Supriatun (70) membuat gerabah, anak-anaknya dapat menikmati pendidikan hingga jenjang lanjut dan sudah berhasil. Selain itu, tempat pembuatan gerabah ini juga menjadi rujukan para siswa untuk belajar kearifan lokal. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar