Ekbis

Geluti Reparasi Arloji Modalnya Teliti dan Sabar, Paling Sulit Perbaiki Tipe Kinetik

Mohamad Soleh pemilik salah satu badek di los arloji dan penjahit bagian tengah Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Penekun reparasi arloji satu ini tergolong kawakan di bidangnya. Aneka jenis arloji hingga jam dinding kuno dapat direparasinya. Keterampilan yang didapatkan secara otodidak. Adalah Mohamad Soleh pemilik salah satu badek di los arloji dan penjahit bagian tengah Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto.

Pria paruh baya asal Desa Gempolkrep Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto sejak puluhan tahun silam. Almari kaca menjadi tempat berbagai peralatan, onderdil, segala tetek bengek keperluan reparasi disimpan. Di depannya, lampu berpendar cahaya putih ditutup kertas kerucut menjadi penerang ketika Soleh mereparasi.

“Sehari-hari mereparasi di sini. Saya sudah mulai menekuni reparasi arloji dan aneka jam dinding sejak tahun 1975 lalu. Awalnya, saya ikut pakde yang juga tukang reparasi arloji. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP, saya bantu-bantu pakde saja. Kata pakde saya, kuncinya mereparasi arloji itu harus sabar, telaten, dan teliti,” ungkap pria berusia 63 tahun ini, Senin (9/11/2020).

Pria lulusan SMPN 8 Kota Mojokerto menjelaskan, jika saat itu ekonomi masih sulit. Fasilitas dan sarana prasaran belum selengkap saat ini. Saat itu, ia pun belajar sambil bekerja membantu pakdenya. Keterampilan mereparasi tidak didapatkan begitu saja atau diajarkan secara langsung oleh pakdenya.

“Saat itu, saya hanya kebagian tugas membeli onderdil atau disuruh membeli bensin di pom (SPBU) Sooko. Tidak diajarkan langsung ilmunya. Jadi ya saya hanya melihat saja ketika pakde mereparasi. Berawal dari melihat itulah mengetahui tata cara mereparasi. Waktu itu, Lebaran tahun 1975, pakde saya libur selama lima hari,” ceritanya.

Bapak empat anak ini menuturkan, ia kemudian minta izin pakdenya untuk membuka bedak milik pakdenya dan berharap ada orang yang ingin reparasi arloji ke tempatnya. Belakangan, pelanggan yang kala itu membutuhkan jasa reparasi berhasil digarap Soleh. Ia masih ingat betul pelanggan pertamanya. Seorang warga Sooko, anak seorang tentara.

“Dari situ saya izin ke pakde kalau buka bedaknya. Siapa tahu ada orang yang ingin reparasi. Dari situ pakde mulai percaya. Ongkos reparasi kala itu masih murah. Sekitar Rp5 rupiah Rp10 rupiah saja. Saat itu, orang yang memiliki jam tangan, apalagi jam dinding bisa dihitung jari. Itupun biasanya berasal dari kalangan menengah atas atau pegawai kelas atas,” ujarnya.

Saat itu, lanjut Soleh, harga jam sendiri cukup mahal. Merk lawas saat itu seperti Mido, Garuda, Whincester, dan lainnya. Seiko dan merk-merk jam asal Jepang belum ada saat itu. Pekerjaan mereparasi arloji dan jam dinding ditekuninya hingga saat ini. Meski tidak diajari langsung, Soleh mengingat betul pesan-pesan dari pamannya. Yang mana, pesan itu dipegangnya hingga kini.

“Pakde selalu pesan agar jangan langsung bongkar arloji. Kalau pelanggan tidak puas, orang tidak kembali lagi. Pesan-pesan itu memang benar adanya. Ketika mereparasi arloji, tidak boleh grusa-grusu. Terlebih, arloji lawas yang sistem penggeraknya kinetik. Berbeda dengan jam kekinian dengan sistem listrik baterai,” jelasnya.

Menurutnya, jam saat ini mudah direparasi karena sudah fix. Namun untuk jam lawas pakai kinetik, sehingga harus tahu karakternya. Dia mencontohkan, jam dinding kinetik lawas yang tengah diperbaikinya memiliki sistem penggerak yang rumit. Banyak roda gerigi yang saling bertaut, kemudian jalinan besi dan kuningan serta per yang memiliki sambungan sendiri-sendiri.

“Kalau ini harus telaten. Karena begitu ada yang meleset, jam berjalan tak sesuai. Kalau saat ini, saya rasa usaha reparasi arloji masih bisa eksis karena arloji hingga jam dinding banyak dimiliki masyarakat. Harganya yang terjangkau membuat tak sedikit orang yang mengkoleksinya. Meski begitu, tidak banyak orang yang benar-benar bisa mereparasi dengan baik,” pungkasnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar