Ekbis

Geliat Stand UMKM di PPST Mojokerto Saat Pandemi Covid-19

Stand di PPST Jalan Raya Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 berimbas ke semua sektor yang ada, tak terkecuali sektor ekonomi. Salah satunya sejumlah stand Usaha Mikro Kecil dan Mencegah (UMKM) di Pusat Perkulaan Sepatu Trowulan (PPST) di Jalan Raya Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Saat ini stand yang ada di PPST tak lagi didominasi pelaku usaha di bidang sepatu dan sandal, namun juga kebutuhan lainnya. Seperti perlengkapan rumah tangga, perlengkapan Alat Tulis Kantor (ATK), alat olahraga, jasa pengiriman barang dan kuliner.

Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, dunia sandal dan sepatu mengalami penurunan, namun tidak dengan kebutuhan lainnya. Seperti stand perlengkapan rumah tangga dan perlengkapan ATK. Pasalnya, untuk memasarkan produk mereka tidak hanya mengandalkan stand namun juga media sosial (medsos).

Salah satu stand perlengkapan ATK milik Khoirul Anwar (38) warga Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang misalnya. Ia mengaku pandemi Covid-19 tidak berpengaruh lantaran saat pembelian kebutuhan ATK dilakukan secara online selain offline dengan konsumen datang ke stand miliknya.

“Saya malah sewa stand di sini pas pandemi Covid-19 ini. Saya sudah sejak tahun 2014 cari stand di sini tapi penuh terus, memang terlihat seperti banyak yang tutup karena satu orang bisa menyewa lebih dari satu stand. Sehingga satu dibuka, yang satu biasanya jadi gudang,” ungkapnya, Rabu (20/1/2021).

Stand miliknya menyediakan keperluan ATK. Saat ia mendapatkan pesanan maka langsung dikirim ke alamat pemesan. Pemesanan sendiri bisa melalui online maupun datang ke stand miliknya, sehingga stand miliknya hanya sebagai transit barang saja. Pandemi Covid-19 saat ini tidak berpengaruh ke bisnisnya.

“Pesan kirim. Saya melayani online dan offline, 40 offline dan 60 online. Stand malah tidak saya isi barang, kalaupun dijadikan gudang saya takut karena stand tidak ada perbaikan, rolling door rusak jadi takut kemalingan. Pandemi Covid-19, buat saya tidak ada pengaruh,” ujarnya.

Karena, lanjut Anwar, pemerintah telah mengarahkan melalui Sistem Informasi Pengadaan di Sekolah (SIPLah). Yakni sistem elektronik yang digunakan untuk melakukan pengadaan barang dan jasa oleh satuan pendidikan yang diakses melalui laman siplah. Sekolah atau instansi akan mencari sendiri toko online untuk pengadaan barang dan jasa.

“Jadi sekolah atau instansi itu akan mencari toko online penyedia keperluan ATK dan pemerintah biasanya mengarahkan ke toko suplayer terdekat. Belanjanya tiap BOP (Biaya Overhead Pabrik) turun, belanja sehingga pandemi Covid-19 kalau buat saya, tidak ada pengaruh. Meski tidak ada anak sekolah tapi ATK masih diperlukan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pemilik stand penyediaan kebutuhan rumah tangga, Oktavia Putriana (33) mengaku mengalami penurunan hingga 50 persen meski ia juga membuka penjualan secara online. “Ada (penurunan). Turun sekitar 50 persen sejak pandemi, tapi tetap buka. Jam sesuai prosedur Covid-19,” tuturnya.

Oktavia mengaku sudah membuka stand di PPST untuk menjual kebutuhan rumah tangga sejak dua tahun lalu. Ia berharap Covid-19 bisa cepat berlalu sehingga aktivitas kembali seperti sebelum Covid-19. Karena jam operasional juga mempengaruhi penjualan. (tin/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar