Ekbis

FFI Gelar Bincang-bincang Bewara di Tulungagung

Tulungagung (beritajatim.com) — Untuk memperingati Hari Pangan Sedunia, PT Frisian Flag Indonesia (FFI) menyelenggarakan bincang-bincang Bewara di Tulungagung , Jumat (18/10/2019). Kegiatan tersebut dilakukan FFI bekerjasama dengan Koperasi Bangun Lestari Tulungagung dan para pakar peternakan

Dalam kegiatan ini, FFI kembali menekankan pentingnya kemitraan dan kolaborasi untuk meningkatkan pemberdayaan peternak lokal dalam mencapai visi misi bersama, yaitu memberikan ketersediaan pangan nasional untuk SDM unggul Indonesia.

Susu merupakan sumber protein hewani yang mengandung banyak gizi penting. Dari sisi hilir, Indonesia merupakan salah satu negara yang konsumsi susunya tergolong rendah dengan angka konsumsi susu masyarakat Indonesia sebanyak 16,5 kg per orang per tahun. Sementara di sisi hulu, produksi lokal baru mencapai 864,6 ribu ton atau sekitar 19 persen dari kebutuhan nasional sebanyak 4,5 juta ton.

Saat ini, global tengah berada pada Revolusi Industri 4.0 atau dikenal dengan Era Disrupsi. Oleh karena itu, dunia usaha perlu mengantisipasi tantangan era ini melalui kompetensi 4C. Communication pemenuhan proses interaksi sosial, Collaboration menjalin kerjasama, Critical Thinking membangun tradisi pemikiran kritis dan Creativity mendorong proses kreatif.

Dalam hal inilah, kompetensi komunikasi dan kolaborasi dapat direalisasikan dalam sebuah proses kemitraan. Dengan demikian, kemitraan menjadi salah satu faktor penting bagi dunia usaha dalam menghadapi Era Disrupsi.

Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan IPB, Epi Taufik mengatakan pengetahuan dan pemahaman para peternak sapi perah lokal harus terus diperbarui, sesuai dengan GDFP (Good Dairy Farming Practices) salah satunya melalui program kemitraan.

Hal tersebut dilakukan agar para peternak sapi perah lokal dapat mengikuti perkembangan informasi dan teknologi peternakan sapi perah terkini di Indonesia dan dunia pada umumnya.

“Saya sangat mengapresiasi dunia usaha yang terus bermitra dengan para peternak sapi perah lokal seperti yang dilakukan FFI. Saya berharap industri pengolahan susu lainnya dapat melaksanakan hal yang sama. Bagi yang sudah melaksanakan, diharapkan untuk terus menjalankan programnya dengan berkesinambungan,”ujar Epi.

Fresh Milk Relationship Manager Frisian Flag Indonesia Efi Lutfillah berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peranan penting peternak sapi perah lokal dalam ketersediaan susu nasional dan kontribusinya terhadap gizi nasional. Selain itu, melalui kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, diharapakan para peternak dapat menggenjot produksi sapi perah dan turut meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Kami berharap masyarakat lebih menyadari kontribusi peternak lokal dalam penyediaan kebutuhan susu dan gizi nasional. Kegiatan ini juga merupakan salah satu wadah untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama peternak sapi perah lokal dengan ahli peternakan untuk meningkatkan produksi susu dan kesejahteraan peternak,” ujar Efi.

Selain itu, Efi mengatakan Program Edukasi Bewara merupakan salah satu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan peternak. Peningkatan produktivitas dan kualitas susu merupakan salah satu target yang dapat dicapai dengan menerapkan pengetahuan dan manajemen yang benar. Kegiatan ini juga dapat melatih peternak menjadi individu yang proaktif dan mampu bekerjasama secara kelompok.

“Kami sebagai pelaku industri susu, peternak, dan stake holder yang terlibat memahami bahwa mereka dapat mencapai tujuan dengan berkolaborasi melalui kemitraan. Dengan berbagai tantangan yang ada, kami menyadari bahwa kami membutuhkan satu sama lain untuk mencapai tujuan itu. Kedepannya, FFI tetap konsisten dalam mengembangkan potensi para peternak sapi perah lokal di Indonesia melalui pendekatan kolaborasi atau kemitraan ini.” tambah Efi.

Ketua Koperasi Bangun Lestari Tulungagung, Muntohin mengapresiasi berbagai inisiatif yang dilakukan oleh FFI terhadap peternak lokal. Ia mengakui adanya perubahan signifikan yang dialami oleh para peternak lewat berbagai inisiatif yang dilakukan oleh FFI.

“Kebanyakan peternak yang ada di koperasi ini adalah peternak turunan. Pengetahuan yang ada pun biasanya hanya didapatkan dari lingkup yang terbatas. Kami sebelumnya tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh industri dan begitu juga sebaliknya, industri tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh peternak. Dengan adanya kemitraan antara FFI dan peternak lokal, ada dialog yang terjadi dan solusi-solusi yang bisa diambil terhadap tantangan ini. Hal-hal yang sebelumnya dianggap sederhana dan sepele seperti pemberian pakan atau tempat tidur para sapi ternyata berpengaruh besar terhadap kuantias dan kualitas produksi susu yang nantinya berimbas ke pendapatan peternak.” ujar Muntohin.

Ia juga menambahkan bahwa ada banyak pengetahuan yang didapatkan dari program ini. Selain itu, kegiatan ini juga melatih para peternak menjadi individu yang proaktif dan mampu bekerja sama secara kelompok.

“Dengan meningkatnya pengetahuan peternak, hal ini juga meningkatkan kesejahteraan peternak. Sehingga menjadi peternak mulai dilirik kembali dan diharapkan dapat memacu regenerasi. Kami berharap kerjasama ini terus dilakukan oleh FFI dan FFI tetap konsisten dalam mengembangkan potensi para peternak sapi perah Indonesia,” tambah Muntohin.

Salah satu program pemberdayaan peternak, Program BEWARA, rutin diadakan setiap tahun sejak 2009 dan diikuti lebih dari puluhan peternak sapi lokal di Indonesia untuk berdiskusi secara aktif di setiap sesinya.

Selain itu, setiap minggu FFI juga mengadakan Bewara Radio yang berpusat di salah satu stasiun radio di Bandung, yang dapat di dengar oleh peternak baik secara langsung maupun streaming di daerah lain.

Selain program edukasi Bewara, FFI juga memiliki program lain sebagai upaya peningkatan kapabilitas peternak sapi perah seperti program Farmer2Farmer, Young Farmer Academy, Milk Collection Point (MCP) dan Dairy Village.

Farmer2Farmer merupakan wujud nyata FFI dalam berupaya meningkatkan kesejahteraan peternak di Indonesia dengan memberikan pengetahuan mengenai tata kelola dan tata laksana peternakan. Young Farmer Academy mengajak generasi muda untuk melanjutkan bisnis peternakan. MCP merupakan tempat penampungan susu segar otomatis pertama di Indonesia (dengan sistem barcode).

Sampai saat ini, ada 7 titik MCP yang telah beroperasi hasil kerjasama dengan Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS). Sedangkan Dairy Village (desa susu) yang berlokasi di Ciater, Subang, Jawa Barat merupakan peternakan sapi perah independen modern dan berkelanjutan pertama di Indonesia. Dairy Village merupakan hasil kerjasama yang dibangun antara FFI dan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Jawa Barat. [nng/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar