Ekbis

Fakta Menarik Pengolahan Pindang di Brondong Lamongan

Lamongan (beritajatim.com) – Pengolahan pindang di Kecamatan Brondong Lamongan menjadi salah satu sentra pengolahan pindang terbesar di Jawa Timur, selain di Muncar Banyuwangi, dan Prigi Watulimo Trenggalek.

Di Brondong sendiri ada sekitar 25 Unit Pengolahan Ikan (UPI) Pindang, dari yang dulunya berjumlah 40 UPI. Penyusutan ini terjadi karena sebagian pengolah pindang tersebut tak punya generasi yang meneruskan usahanya. Beberapa dari mereka ada juga yang punya produk sampingan dari proses pengolahan pindang, yakni petis ikan.

Salah satu yang terbesar dari UPI (Unit Pengolahan Ikan) Pindang di Brondong adalah milik CV Putra Kresna yang dikomandoi oleh H. Hadi Yarsono (47), akrab dipangil Sono, bertempat di Kelurahan Brondong Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan.

Usaha yang ditekuni Sono secara turun temurun dari orang tuanya tersebut terhitung sudah 20 tahun lebih lamanya. Sekarang, olahan pindangnya sudah didistribusikan hampir ke seluruh pasar di Jawa timur.

“Kita jual ke seluruh pasar di Jawa Timur, pelanggan kita belinya grosir. Yang paling banyak pengiriman ke kawasan Surabaya, ada grade A dan B,” ujar Sono, Rabu (12/05/2021).

Sono mengatakan, ia telah memiliki Coldstorage dengan kapasitas 70 ton. Dari Coldstorage itulah Ikan yang beku dikeluarkan dan didiamkan selama 1 jam sampai cair, dikasih garam, kemudian dimasukkan keranjang sesuai size, dan direbus selama 10-15 menit, lalu ditiriskan.

Ikan-ikan yang diolah menjadi pindang di Pabriknya tersebut merupakan ikan jenis Pelagis, yakni kelompok ikan yang berada di lapisan permukaan air. Dengan ciri utamanya beraktivitas secara bergerombol dan melakukan migrasi.

“Ada 3 jenis ikan yang kita olah. Jenis Layang, Salem, dan Tongkol,” katanya.

Tak banyak yang menyangka, bahwa Ikan yang diolah oleh Sono di CV Putra Kresna Brondong ini ternyata bukan dari ikan hasil tangkap nelayan di Pelabuhan Nusantara (PPN) Brondong. Ikan tersebut justru ia datangkan dari Juwana Pati Jawa Tengah, kadang sebagian dari Madura, Sulawesi, dan bahkan ada yang impor.

“Saya dikirim dari Juwana Jawa Tengah, kadang Madura dan Sulawesi. Karena seperti ikan Layang, stok dari TPI setempat gak ada. Untuk yang jenis Salem, biasanya impor dari Cina. Sedangkan setiap hari kita butuh 2,5 sampai 3 ton ikan untuk memenuhi permintaan konsumen,” terangnya kepada beritajatim.com

Selain itu, Sono menambahkan, bahwa di PPN Brondong, dirinya kesusahan saat mencari stok dari beberapa ikan Pelagis sebagai olahan Pindang.

“Kalo ikan Pelagis di sini itu susah mas, karena ada pergeseran penangkapan ikan, rata-rata nelayan di sini menangkap ikan karangan atau yang letaknya di dasar, beda jenisnya dari yang kita butuhkan untuk pindang,” tambahnya.

Dalam usaha pengolahan pindangnya, Sono menceritakan terkait kendala yang dialaminya, mulai dari fluktuasi harga hingga kurangnya kapasitas Coldstorage yang dimiliki.

“Kendala di fluktuasi harga, karena ada pertarungan harga dari para suplyer, untuk kualitas bahan baku gak masalah. Selain itu, kapasitas Coldstorage kurang besar, hanya muat 70 ton, sedangkan idealnya 2 kali lipat daripada itu,” jelasnya

Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang pindang, Sono berharap, bahwa image pindang nantinya tidak melulu dipandang secara tradisional, tapi lebih modern. Dirinya terus berupaya melakukan inovasi agar produknya bisa lebih diterima oleh pasar modern atau kelas menengah ke atas. [aht/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar