Ekbis

ETF Indonesia Top 40 kini Kelola Dana Rp 486 M

Surabaya (beritajatim.com) – Manajemen PT Danareksa Investment Management (DIM) terus gencar menawarkan produk Exchange Traded Fund (ETF) yang menawarkan penyertaan unit di bursa efek.

Jika beberapa produk Danareksa masih melambat, maka ETF menawarkan bentuk investasi dengan mekanisme transaksi saham melalui Anggota Bursa (Perusahaan Sekuritas), sementara Reksa Dana biasa, transaksi jual belinya dilakukan melalui Manajer Investasi atau Agen Penjual Reksa Dana.

Julianto Wongso, Fund Manager ETF menjelaskan jika ETF adalah produk DIM tetapi transaksi penjualan maupun pembeliannya dilakukan melalui PT Indo Premiers Sekuritas. Melalui Indopremiers ini nasabah bisa mengendalikan investasi nya sendiri.

‚ÄúPasar ETF di Indonesia berkembang cukup pesat dikarenakan ETF memiliki beberapa keunggulan. Pertama, sebagai Reksa Dana, tentunya adalah diversifikasi portofolio, sehingga investasi investor akan secara otomatis disebar ke dalam beberapa saham untuk optimalisasi hasil investasi dan meminimalisir risiko. Kedua, fleksibilitas waktu transaksi, di mana dapat memanfaatkan momentum (market timing) untuk melakukan jual atau beli selama jam perdagangan bursa sehingga mendapatkan harga terbaik. Dan yang terakhir adalah transparansi portofolio, di mana investor dapat mengetahui seluruh saham-saham yang terdapat dalam portofolio ETF beserta dengan komposisinya,” jelasnya.

Produk ETF yang dimiliki DIM adalah Danareksa ETF Indonesia Top 40. Sesuai dengan namanya, portofolio ETF ini berinvestasi pada 4O saham unggulan yang memiliki fundamental keuangan yang solid, kapitalisasi pasar yang besar dan tingkat Iikuiditas yang tinggi. Investasi yang menggiurkan ini membuat nasabah pun berbondong-bondong bermain di ETF dan kini dana kelolanya mencapai Rp 486 miliar.

Selama setahun terakhir, Danareksa ETF Indonesia Top 40 berhasil mencetak kinerja 12,22% (per 31 juli 2019). Angka ini mengalahkan Indeks LQ45 9,48% dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak angka hanya 7,65% serta indeks Reksa Dana Saham lnfovesta sebesar -2.56% pada periode yang sama.

Helmy Kristanto, Head of Research and Strategy DIM mengaku saat ini kondisi ekonomi dunia sedang tidak begitu baik dan kemungkinan dalam beberapa waktu akan terjadi resesi. Sebab perekonomian dibeberapa negara mengalami kontraksi. Negara di Asia seperti Singapura dan Hongkong pun ikut terdampak.

“Beruntungnya kebijakan suku bunga dari Bank Indonesia saat ini cukup fleksibel sehingga Indonesia masih dianggap masih aman. Tinggal menunggu butir-butir kebijakan ekonomi apa yang akan diambil oleh Presiden Joko Widodo untuk tahun 2020 mendatang,” tandas Helmy. [rea/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar