Ekbis

Entas Kemiskinan di Kabupaten Malang dengan IKM

Untuk mengentas kemiskinan, Pemkab Malang berupaya memaksimalkan fungsi industri kecil menengah (IKM) dengan menggelar bincang dan pelatihan kewirausahaan yang dilakukan di Pendopo Agung Jalan Agus Salim, Kota Malang, Kamis (31/1/2019).

Malang (beritajatim.com) – Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Malang sesuai dengan Visi Misi utama pembangunan yang mengutamakan pengentasan Kemiskinan, Lingkungan Hidup dan Pariwisata.

Untuk mengentas kemiskinan, Pemkab Malang berupaya memaksimalkan fungsi industri kecil menengah (IKM) dengan menggelar bincang dan pelatihan kewirausahaan yang dilakukan di Pendopo Agung Jalan Agus Salim, Kota Malang, Kamis (31/1/2019).

Diikuti lebih dari 300 pelaku industri kecil menengah dan usaha mikro kecil menengah, Wakil Bupati Malang, yang juga sebagai Plt Bupati Malang, HM. Sanusi mengatakan, dengan memaksimalkan potensi pengembangan IKM ini dapat mendorong program pengentasan kemiskinan, apalagi pihak Pemkab bersama Pemkot Malang dan Batu akan membuka showroom dipintu tol Malang-Pandaan (Mapan).

“Showroom itu nantinya akan digunakan untuk mewadahi produk-produk IKM dari Malang Raya. Dengan konsep rest area UKM dan pariwisata, yang lokasinya bisa di Lawang atau di Singosari, pokoknya didekat exit tol. Kami juga sudah bicarakan nanti kurang lebih butuh lahan seluas 5 hektare untuk merealisasikan,” ungkap Sanusi.

Kata Sanusi, pihaknya berharap agar IKM dari Kabupaten Malang bisa go international.

“Kalau sekarang memang baru kopi saja, tapi kedepannya kalau bisa kerajinan atau olahan hortikultura lainnya juga bisa go publik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (disperindag) Kabupaten Malang, Pantjaningsih Sri Redjeki melanjutkan, berdasarkan data yang ada, dari 23.700 IKM hanya ada 1977 yang sudah sudah melengkapi izin dan aktif melakukan produksi.

“Sisanya bukan berarti tidak memiliki izin. Tapi belum melengkapinya, seperti SIUP, sertifikat hak paten, brand atau merk, atau sertifikat motif untuk pengrajin batik, itu biasanya hanya dibutuhkan oleh pelaku IKM yang benar-benar aktif dan produksinya kontinyu,” jelasnya.

Sebenarnya, lanjut Pantjaningsih Sri Redjeki yang akrab disapa Panca, dari segi kualitas, produk IKM Kabupaten Malang lebih banyak bergerak pada komoditas lokal. Meskipun ada juga sektor industri yang telah mencapai pasar ekspor.

“Ekspor atau tidak sebenarnya tidak menjadi patokan. Hanya saja jika di skala kecil sudah bisa menggerakkan perekonomian, goal kita untuk menekan angka kemiskinan akan semakin dekat,” pungkasnya. (yog/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar