Ekbis

Enam Desa di Bondowoso Kembangkan Potensi Kopi, Batik, dan Agrowisata

Bondowoso (beritajatim.com) – Enam desa di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengembangkan potensi masing-masing di bawah pembinaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember.

Enam desa itu adalah Desa Sumberwringin, Sukorejo, Sukosari Kidul, Rejoagung, Sumbergading, dan Tegaljati. “Di sana kami akan fokus pada pengembangan potensi lokal. Sementara ini rencananya masih pengembangan potensi kopi, batik dan agrowisata,” kata Koordinator Pusat Pemberdayaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, Hermanto Rohman, sebagaimana dilansir Humas dan Protokol Unej, Selasa (4/8/2020).

Menurut Hermanto, pengembangan ekonomi masyarakat yang dilakukan Universitas Jember di Bondowoso sebenarnya sudah sejak lama. “Bahkan beberapa desa binaan Universitas Jember di Bondowoso telah memiliki badan usaha milik sesa (BUMDes) yang berjalan dengan baik,” katanya.

“Hanya saja dengan beberapa mitra dan program yang berbeda. Jadi sebetulnya ini melanjutkan dari apa yang telah kami lakukan sebelumnya. Bahkan beberapa kepala desa yang lain justru berharap mendapatkan pembinaan dari kami,” tambah Hermanto.

Unej sendiri mendapat dukungan dari Astra International melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Rektor Universitas Jember Iwan Taruna dengan Deputy Chief of Corporate Affairs Astra Riza Deliansyah yang dilakukan secara terpisah, Rabu (29/7/2020) lalu.

Riza Deliansyah mengatakan, pihaknya setiap tahun memilih desa-desa yang telah diusulkan untuk mendapatkan pembinaan program-program pemberdayaan dan pendampingan ekonomi. Astra terfokus pada pengembangan kewirausahaan.

“Desa yang terpilih akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan, penguatan kelembagaan, dan bantuan prasarana. Setelah mereka mendapatkan pelatihan dan kelembagaannya sudah terbentuk kami juga memberikan bantuan modal,” kata Riza.

Astra menggandeng perguruan tinggi seperti Unej karena membangun ekonomi masyarakat pedesaan bukanlah perkara mudah dan memerlukan tenaga-tenaga terampil dan kreatif untuk bisa bekerja bersama. Perguruan tinggi menjadi pendamping desa, yang mendampingi, melatih, memantau, dan mengevaluasi kegiatan di desa tersebut. “Harapan kami nanti semua desa di Indonesia menjadi desa tanpa kemiskinan, desa tanpa kelaparan, desa ketahanan pangan, desa sehat dan sejahtera, desa pendidikan berkualitas dan desa-desa tangguh lainnya,” kata Riza. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar