Ekbis

Emak-emak di Mojokerto, Sulap Daun Kelor Jadi Aneka Olahan

Sri Andrijanti membuat kue kering dari daun kelor. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Kebun kelor seluas 800 meter2 milik Dinas Pertanian (Disperta) Kota Mojokerto di Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto dimanfaatkan emak-emak Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Kencana. Daun hijau penolak bala ini disulap menjadi aneka olahan.

Seperti, teh, tepung, makanan ringan, kue kering hingga mie kelor. Tujuannya tidak lain sebagai upaya mempertahankan perekonomian keluarga dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Ditambah, di sekitar rumah warga juga banyak ditanami tanaman dengan nama lain, moringa ini.

Duan kelor juga memiliki kandungan protein tinggi dan bagus untuk ketahanan tubuh. Banyaknya pohon kelor tersebut akhirnya menginspirasi para emak-emak untuk lebih kreatif menciptakan olahan daun kelor berbagai macam, tak hanya untuk sayur bening saja.

Bagian Produksi KWT Putri Kencana, Sri Andrijanti mengatakan, selama ini warga hanya memanfaatkan sebagai sayur bening padahal di lingkungannya banyak terdapat tanaman kelor. “Kebun Disperta sendiri ditanami kelor sejak tahun 2016. Di sekitaran rumah warga, juga banyak tanaman kelor,” ungkapnya, Jumat (21/8/2020).

Inilah yang menjadi ide awal para emak-emak KWT Putri Kencana memanfaatkan tanaman kelor menjadi berbagai macam olahan. Untuk membuat teh daun kelor, setelah dipetik dan dipisahkan dari batangnya, daun kelor dicuci bersih dan dikeringkan selama dua hingga tiga hari.

“Proses pengeringannya tanpa sinar matahari secara langsung jadi cukup ditaruh di dalam ruangan dengan suhu tertentu. Supaya vitaminnya tidak hilang, daun kelor ditutup dengan kain hitam. Setelah itu susah bisa dibungkus dan dibuat teh. Cara ini sama untuk tepung, setelah kering digiling,” katanya.

Untuk membuat kue, lanjut guru tata boga salah satu sekolah kejuruan di Kota Mojokerto ini, daun kelor yang sudah menjadi tepung dicampur dengan bahan lainnya. Seperti tepung terigu, mentega, telur. Setelah adonan siap, barulah dicetak dengan menggunakan sendok atau garpu dan di oven dengan suhu 140 derajat celcius.

“Campuran tepung kelornya hanya 5 persen saja dari berat tepung terigu yang digunakan di setiap adonan. Biar tidak terasa pahit dan warna yang dihasilkan juga pas tak terlalu mencolok. Hasil olahan daun kelor kita jual, tahu bakso kelor Rp2,5 ribu, tepung kelor Rp10 ribu, kue kering, maupun basah Rp25 ribu sampai Rp60 ribu,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu penikmat mie kelor, Asih mengatakan, jika rasa mie kelor berbeda dengan mie pada umumnya. “Rasanya, lebih kenyal dari mie biasanya. Apalagi dimakan dengan bakso dan daun jadi lengkap. Di Kota Mojokerto baru di Pulorejo ini yang jadikan daun kelor menjadi mie,” ujarnya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar