Ekbis

Ekspor Benih Lobster, Menteri Edhy: Semua Kita Beri Kesempatan

Banyuwangi (beritajatim.com) – Menteri Kelautan dan Perikanan RI Edhy Prabowo mengatakan keputusannya dalam ekspor benih lobster adalah demi kepentingan bersama. Termasuk menghidupkan masyarakat nelayan dan pengusaha.

“Jadi terkait ekspor benih itu kami sebenarnya mencabut Permen 56 yang dirasan warga masyarakat ini merugikan. Masyarakat banyak bisa berharap mencari mata pencaharian nafkah sini tiba-tiba dihapus, tanpa adanya alternatif. Ini yang sebenarnya semangat awalmya bisa menghidupkan,” kata Edhy Prabowo di sela kunjungannya di Situbondo, Kamis (9/7/2020).

Sebenarnya, kata Edhy, semangatnya bukan ekspor tapi budidaya. Namun, ia menyebut saat ini budidaya pun juga tidak bisa. “Kalau tidak dibudidaya lalu kita biarkan juga tidak menjadi manfaat, kalau dibiarkan juga mati di alam, kalau bilang setelah diambil akan habis ya nggak juga,” ungkapnya.

Pasalnya, Menteri pengganti Pudji Astuti ini memiliki opsi untuk itu. Bahkan, ada kebijakan yang mengatur tentang pemanfaatannya. “Mereka yang mengambil 2 persen harus wajib mengembalikan. Lalu pertanyaannya kenapa harus koperasi dan perusahaan, karena agar tersinergi dan tercatat,” kata menteri.

“Kalau perorangan kontrolnya terlalu besar, tapi tetap kita beri kesempatan itu apa, tidak peduli bentuknya seperti apa, organisasinya tidak penting,” terangnya.

Pertama, lanjut Politisi Gerindra ini, menghitung jumlah nelayan yang mengumpulkan. Pengawasan ini perlu karena itu yang akan menentukan harga. “Harganya Rp 5 ribu, kalau dulu harganya ditentukan, maka ini yang bisa kontrol. Kalau di bawah itu sanksinya berat bisa kita cabut izinnya dan lainnya. Kita mau pasti harganya kami kontrol untuk cek,” Ujarnya.

Kedua, kata Edhy, masyarakat harus ada jaminan kepastian. Termasuk pengusaha juga harus mendapat kepastian usaha dan keuntungan dalam melakukan kegiatan. “Termasuk juga Lingkungan tidak rusak. Kalau masalah setelah diambil akan hilang punah, kita udah wajibkan dua persen untuk dikembalikan,” terangnya.

Karena, menurut Edhy, hitungannya di alam ada 00,2 persen. Itu berarti sudah 100 kali dari target alam yang bisa ciptakan. “Jumlah yang dapat dibudidaya masyarakat bisa sampai 30 persen, hari ini kita teliti dari dasar sampai permukaan sehingga kita mengetahui berapa mengetahui berapa persen tingkat kehidupannya. Sehingga manfaat ekonomi sangat besar,” katanya.

Terakhir, Edhy menyebut lembatasan ekspor harus tetap ada. Karena, pihaknya tidak mau negara importir memiliki lebih besar. “Kita ambil peluanh pertama dulu ini, kemudian kita tata. budidaya kita dari awal tidak dikasih untuk lebih bagus. Infrastruktur kita juga perbaiki. Semua kita kasih kesempatan, jangan bilang tidak diberi kesempatan yang penting mengikuti aturan,” pungkasnya. [rin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar