Ekbis

Durian Kanjeng Jadi Primadona di Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Nama durian kanjeng saat ini menjadi primadonanya durian di Ponorogo. Buah hasil persilangan durian lokal Ngebel dengan durian montong tersebut, disukai banyak orang. Betapa tidak, rasa yang manis terasa di ujung lidah saat menyantapnya.

Berbeda dengan durian lain yang membuat perut terasa eneg. Meskipun sama-sama manis, durian tersebut punya rasa pahit di ujungnya. Rasa itulah yang kemudian membuat banyak orang ketagihan. Pun di perut tidak terasa panas seperti saat menyantap jenis durian lainnya. “Saat ini Ngebel memasuki panen raya, termasuk durian kanjeng ini,” kata Petani durian asal Ngebel Dwi Supriyadi (22), Senin (25/2/2019)

Dwi Supriyadi bukanlah satu-satunya petani durian yang ada di Ngebel. Hampir setiap rumah di kawasan tersebut memiliki pohon durian. Tidak heran jika wilayah Ngebel menjadi rajanya durian di Bumi Reyog. “Kami ingin menjadikan Ngebel ini bukan hanya indah panoramanya. Tapi juga sebagai surganya durian,” katanya.

Berbekal modal dari kedua orang tuanya, Dwi sukses menjadi petani muda durian. Lahan seluas satu hektar telah ditanami buah berduri tersebut. Baik durian lokal Ngebel maupun durian montong. Dari situlah dia berinisiatif menanam varian durian lainnya.

Saat gembor-gembornya durian kanjeng kali pertama muncul pada 2013, Dwi langsung mencari bibitnya. Awalnya dia mencoba menanam satu bibit. Setelah beberapa bulan, dia melihat perawatan durian kanjeng tidak sesulit durian montong maupun lokal Ngebel.

Terutama pada pemberian pupuk. Durian kanjeng hanya membutuhkan pupuk organik sudah mampu tumbuh dengan baik. “Ternyata dari sisi perawatan lebih gampang,” ungkapnya.

Selain perawatan, perbedaan mencolok durian kanjeng dan durian montong terletak pada warna kulit. Durian kanjeng memiliki kulit berwarna hijau. Sementara kulit durian montong berwarna kuning keemasan.

Saat ini dikebunnya ada lima pohon durian kanjeng yang tahun ini akan berbuah. Selain itu ada juga pohon durian dari jenis lain. Dari hasil itu, Dwi mengaku mampu meraup omset hingga Rp 10-15 juta per pohon tiap kali panen. “Dalam setahun biasanya bisa sampai dua kali panen. Tergantung dari cuaca juga sih,” pungkasnya. [end/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar