Ekbis

Dua Pebatik Jelaskan Khas Batik Angsanah Pamekasan

Pamekasan (beritajatim.com) – Dua perajin batik Desa Angsanah, Kecamatan Palengaan, Aminah dan Syaifuddin memaparkan hasil karya batik tulis khas desa setempat dalam kegiatan Launching Batik Khas Angsanah, sekaligus Peresmian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Balai Desa setempat, Sabtu (3/8/2019).

Hal tersebut dilakukan. sebagai upaya merealisasikan salah satu potensi desa yang digagas oleh mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, yang tengah melaksanakan Perkuliahan Kerja Nyata (PKN) dalam program Mahasiswa Mengabdi 2019.

“Batik khas desa Angsanah yang kami launching ini, berupa batik khas pohon Sono yang notabene merupakan nama asal dari Desa Angsanah,” kata salah satu perajin batik Desa Angsanah, Aminah saat memaparkan hasil karyanya di hadapan undangan.

Selain menerapkan khas desa setempat, dirinya juga menyertakan ciri khas dari daerah berslogan Bumi Gerbang Salam. Di antaranya dengan motif lima Arek Lancor di antara desain dedauan yang dibatik. “Selain membranding dengan motif khas desa Angsanah, kami juga menyertakan lima Arek Lancor sebagai bagian dan ciri khas kabupaten Pamekasan,” ungkapnya.

“Pemilihan pohon sono sebagai khas desa Angsanah, sengaja dipilih karena dinilai memiliki keanggunan. Bahkan saat dimodif pun tidak terlalu mencolok, bahkan hasil pewarnaan juga lembut dan enak dipandang,” sambung perempuan yang bergerak di bidang usaha batik.

Dari itu, dirinya mengajak masyarakat untuk bersama-sama memamerkan batik khas desa Angsanah. Terlebih sebagian besar masyarakat setempat berprofesi sebagai pebatik, sekalipun hasil karya mereka dimodifikasi oleh para pengusaha di desa sekitar.

“Kedepan mari kita munculkan ide khas batik Angsanah, mari bersatu untuk mempopulerkan batik khas kita. Sebab dengan bersatu, nantinya bakal menjadi kekuatan. Apalagi saat ini sudah ada tiga pemesan yang siap menampung jenis batik Angsanah, yakni dari Rembang, Besuki dan Tuban,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Syaifuddin, jika motif batik khas Angsanah sangat menjanjikan sekaligus memberikan peluang demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat. “Seperti yang kita lihat bersama di lembaran batik ini, warna dan motifnya seperti pohon sono yang kita jadikan sebagai batik khas desa Angsanah,” jelasnya.

“Jadi kalau pohon sono dibelah, akan mengeluarkan warna cokelat kemerahan dengan nuansa kembar kekuningan. Dan ini namanya motif pohon sono keling alias asli tanpa campuran,” sambung Syaifuddin sambil mempromosikan batik khas Desa Angsanah.

Dari itu pihaknya menilai dua motif batik Angsanah yang digagasnya bakal menjadi trent tersendiri, sekaligus bisa bersaing dengan jenis dan motif batik lain di Pamekasan. “Motif yang kita pakai ada dua, yakni motif pohon sono keling dan kembang. Kalau sono keling itu asli sesuai dengan pohon sono, sedangkan sono kembang ditambah dengan kreasi pebatik,” pungkasnya. [pin/but] 





Apa Reaksi Anda?

Komentar