Iklan Banner Sukun
Ekbis

DJPb Pastikan Ekonomi Jatim Sehat dan Terkendali

Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jatim, Taukhid memastikan perekonomian di Jatim hingga 31 Agustus 2022 masih terkendali, sehat dan aman.

Kendati ada kelompok yang mengalami inflasi, namun sebagian besar kelompok mengalami deflasi. Dikatakan Taukhid, bahwa tingkat inflasi di Jatim masih terlokalisir.

“Tingkat inflasi kita masih terlokalisir di beberapa unsur. Jadi nggak semuanya (inflasi) juga sebenarnya. Bahkan, di bagian-bagian lain mengalami deflasi. Jadi, itulah makanya ekonomi Jawa Timur masih sehat,” ujar Taukhid di Gedung Keuangan Negara (GKN), Rabu (28/9/2022).


Ia memaparkan, bahwa inflasi bulan Agustus 2022 sebesar 0,09% (m-to-m), dari 11 kelompok pengeluaran, 8 kelompok mengalami inflasi (tertinggi pendidikan – 4,04%), dan tiga kelompok lainnya mengalami deflasi (makanan, minuman dan tembakau – 1,72%, Infokom & jasa keuangan – 0,04%, dan rekreasi, budaya & olahraga – 0,16%).

“Dari delapan kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di Jatim, satu kota mengalami inflasi (Surabaya), dan tujuh lainnya mengalami deflasi,” paparnya.

Sementara tingkat inflasi tahun ke tahun di Jatim, cenderung mengalami kenaikan. Pada Agustus 2022 mencapai 5,20% jauh di atas target Asumsi Dasar Ekonomi Makro (ADEM) APBN sebesar 3%.

“Masih tingginya inflasi tahun ke tahun disebabkan oleh tingginya inflasi beberapa kelompok pengeluaran yaitu kelompok pengeluaran penyediaan makanan dan minuman/restoran (9,13%), transportasi (7,17%), makanan, minuman, dan tembakau (7,42%), dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (5,91%),” urainya.

Taukhid juga menerangkan, inflasi tahun kalender di Jatim (4,05%) dan nasional (3,63%) telah melampaui ADEM APBN sebesar 3%. Menurutnya, masih tingginya inflasi tahun kalender (ytd) disebabkan oleh tingginya inflasi beberapa kelompok pengeluaran yaitu kelompok pengeluaran penyediaan makanan dan minuman/restoran (6,76%), transportasi (5,69%), makanan, minuman, dan tembakau (5,14%), pendidikan (4,81%), dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (4,69%).

Selain itu, PDRB Jatim Triwulan II-2022 yang diukur Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp 677.52 triliun. Sedangkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp 438.03 triliun. Dibandingkan dengan Triwulan-I (q-to-q), perekonomian Jatim tumbuh sebesar 2,39%, dan jika dibandingkan Triwulan -II 2021 (YoY) perekonomian Jatim tumbuh sebesar 5,74%.

Lebih lanjut disampaikan, tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan regional Jatim, kata Taukhid, telah bergeser dari tantangan pandemi Covid-19 ke lonjakan komoditas pangan dan energi, tekanan inflasi global, dan konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

“Pada Juli IMF merevisi proyeksi inflasi global menjadi 8,3% dari 6,9% (WEO Apr-22). Harga komoditas (ytd sd. Agustus 2022) mengalami lonjakan terutama energi seperti batubara (169,84%), gas alam (139,24%), dan minyak mentah (22,17%). Sedangkan komoditas pangan seperti gandum (9,70%), kedelai (5,84%), dan jagung (14,34%) mengalami sedikit kenaikan,” tandasnya. [asg/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar