Ekbis

Ditengah Pandemi Cukai Rokok Tetap Naik, Kadin Jatim Pun Surati Presiden Jokowi

Surabaya (beritajatim.com) – Disaat sektor bisnis lain mendapatkan relaksasi atas pandemi Covid-19. Pelaku Industri Hasil Tembakau (IHT) justru dihantui dengan kenaikan cukai rokok. Hal ini membuat Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jawa Timur meminta rencana pemerintah untuk menunda kebijakan kenaikan cukai rokok 2022.

Sebab dampak dari pandemi Covid-19 mulai tahun 2020 lalu masih dirasakan bagi para pelaku usaha di sektor pengolahan tembakau.

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, mengatakan, pihaknya telah menerima keluhan dari perwakilan usaha Industri Hasil Tembakau (IHT) di Jatim yang meminta untuk diperjuangkan terkait kenaikan cukai 2022 mendatang.

“Untuk itu kami langsung membuat surat dan mengirimkan ke Presiden Joko Widodo, agar kebijakan kenaikan cukai rokok 2022 ditunda,” kata Adik saat ditemui di Graha Kadin Jatim, Rabu (8/9/2021).

Lebih lanjut Adik membeberkan bila kondisi di Jatim, IHT yang terdampak cukup besar. Mulai dari petani yang hasil tanaman tembakaunya belum dibeli industri, hingga kondisi industri yang terdampak pandemi, dengan adanya buruh yang dirumahkan, sampai penjualan produk rokok yang menurun karena daya beli yang juga turun.

“Dan terutama untuk IHT di sektor SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang memang jumlah tenaga kerjanya cukup banyak. Jangan sampai kenaikan cukai membuat SKT mengalami kolaps,” jelas Adik.

Mengingat kenaikan cukai rokok akan meningkatkan harga rokok. Ditengah pandemi yang berdampak pada daya beli konsumen, penjualan berpotensi mengalami penurunan.

“Selain penurunan juga berpotensi meningkatnya rokok ilegal tanpa cukai yang biasanya harga murah. Karena perokok itu tidak pernah berhenti merokok meski harga tinggi. Mereka akan cari alternatif lain,” ungkap Adik.
Lebih lanjut Adik mengatakan kontribusi IHT di Jatim terkait perekonomian nasional sangat besar. Bahkan dari cukai saja, pendapatan secara nasional mencapai Rp 172 triliun. Dari jumlah itu, Jatim memberi kontribusi sebesar 55 persen atau sekitar Rp 101 triliun.

“Saat ini jumlah IHT di Jatim mencapai 425 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja mencapai lebih dari 80.000 orang,” tandas Adik.[rea]


Apa Reaksi Anda?

Komentar