Ekbis

Ditanam di Kaki Gunung Anjasmoro, 2 Jenis Kopi Ini Tumbuh Subur

Salah satu petani dari Kelompok Tani Tirtomakmur saat memanen kopi di Watu Jengger, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Sebanyak 80 anggota gabungan Kelompok Tani Tirtomakmur dan Nawangan di Desa Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto menanam kopi Bistak (Robusta) dan Asisa (Ekselsa) di watu Jengger, kaki Gunung Anjasmoro.

Hasilnya, tanaman kopi yang ditanam di lahan seluas 40 hektar dengan ketinggian 700 mdpl cukup subur. Ini dilihat dari hasil panen dari dua jenis tersebut dengan total berat mencapai 5 kwintal. Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Jatirejo sebagai pendampingnya.

Ketua Kelompok Gani Tirtomakmur, Jani mengatakan, jumlah panen tahun ini mengalami peningkatan cukup drastis jika dibandingkan dengan tahun lalu. “Tahun lalu panen kami mencapai total berat mencapai 3 kwintal, tidak sesuai dengan biaya operasional,” ungkapnya, Kamis (15/8/2019).

Jani menjelaskan, kedua bibit kopi tersebut didapat dari wilayah Wonosalam, Kabupaten Jombang. Dipilihnya lahan di dataran tinggi karena cuacanya yang dingin sehingga diharapkan tanaman kopi tidak cepat kering. Karena pada dasarnya tanaman kopi butuh dipupuk.

“Tapi di dataran tinggi kami tidak memberikan pupuk karena tanahnya masih subur sehingga hasil panen kopi jadi bagus dan tidak butuh biaya untuk pembelian pupuk. Kopi kering, dijual dengan harga Rp10 ribu/kg. Kami berharap Pemkab Mojokerto, melalui dinas terkait agar memberikan sarana dan prasarana,” katanya.

Petani Kelompok Tani Tirtomakmur menunjukkan hasil panen tanaman kopi.

Sehingga, lanjut Joni, kelompok tani tersebut bisa mengembangkan buah kopi menjadi berbagai olahan kopi. Pasalnya, pihaknya berencana mengelola kopi menjadi minuman namun belum ada alatnya untuk mengolah biji kopi menjadi minuman serbuk kopi instan.

Sementara itu, Ketua PPL Desa Sumengko Siti Fatimah, mengatakan jika pihaknya akan memberikan pendampingan secara intensif terhadap kelompok tani kopi di desa Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto dengan tujuan agar hasil olahan kopi dari petani tersebut bisa dikenal oleh masyarakat.

“Dinas Pertanian Kabupaten Mojokerto, sudah mendapatkan satu alat pemecah biji kopi beserta pesangrai kopi. Akan tetapi alat itu belum maksimal karena masih membutuhkan proses tambahan. Kualitas panen kopi pada tahun ini mengalami perubahan ukuran yang cukup besar dengan kondisi buah kopi yang kering,” tegasnya.

Siti menambahkan, bila tanaman kopi terserang hama dan penyakit, petani kopi bisa melapor kepada petugas PPL. Nantinya, tambah Siti, petugas akan membuat surat permohonan bantuan Insektisida dan dari dinas akan turun ke lapangan.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar