Ekbis

Dirut PT Garam Usulkan ‘Insentif’ Bagi Pelaku Industri Yang Gunakan Garam Lokal

Petani garam persiapan menggarap lahan PT Garam (foto : Temmy)

Sumenep (beritajatim.com) – Direktur Utama PT Garam (Persero), Ahmad Ardianto mengusulkan agar pemerintah memberikan ‘insentif’ bagi pelaku industri yang menggunakan garam lokal.

“Menurut saya, cara itu bisa menjadi salah satu alternatif menekan impor garam dan menaikkan nilai tawar garam lokal,” katanya, Senin (29/03/2021).

Ia menjelaskan, selama ini pelaku industri masih menggunakan garam impor dengan berbagai alasan. Salah satunya soal harga. Harga garam impor jauh lebih murah dibanding garam lokal. Selain itu juga terkait kualitas. Ia mengakui, impor garam berpotensi menurunkan harga garam lokal.

“Ini bukan berarti saya anti impor. Bukan. Bagi saya, boleh-boleh saja impor, asal tidak melebihi kebutuhan. Nah para petani kita juga harus meningkatkan kualitas garam lokal supaya mampu bersaing,” ujarnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, pemberian ‘insentif’ dari pemerintah tersebut diyakini akan mampu menggairahkan minat pelaku industri untuk menggunakan garam lokal.

“Kalau kita ingin menekan harga garam impor rasanya kok tidak mungkin ya, karena ini berkaitan dengan kesepakatan dagang negara-negara ASEAN. Karena itu ya dibalik saja. Pemerintah memberikan insentif bagi pelaku industri. Ini supaya garam lokal bisa bersaing,” terangnya.

Menurutnya, insentif yang diberikan tersebut bisa dalam bentuk beragam. Misalnya keringanan pajak atau kemudahan fasilitas finansial lain. “Kebijakan itu untuk membangun ekosistem garam. Tinggal dibuat saja aturannya,” ujar Ardianto.

Pada 2021, Pemerintah berencana mengimpor garam sebesar 3,07 juta ton. Besaran tersebut sesuai keputusan rapat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 25 Januari 2021. Jumlah impor garam tersebut naik 13,88 persen dari impor 2020 yang hanya berkisar 2,7 juta ton garam.

Garam impor terbesar merupakan garam industri atau Chlor Alkali Producer (CAP) sebesar 2,4 juta ton lebih. Sisanya garam aneka pangan dan pertambangan, kemudian garam untuk farmasi hingga kosmetik. (tem/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar