Ekbis

Di Tengah Pandemi Covid-19, Bonsai Kelapa Mulai Dilirik di Mojokerto

Budidaya bonsai kelapa, Kay Bonsai Mojokerto di Desa Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Di Tengah pandemi Covid-19 membuat masyarakat semakin kreatif. Salah satunya yang dilakukan warga Desa Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Ricky Septyan (40) yakni dengan mengembangkan budidaya bonsai kelapa dengan omset antara Rp5 juta sampai Rp8 juta per bulan.

Meski kelapa yang dibuat bonsai dari jenis-jenis tertentu dan harus didatangkan dari Nusa Kambangan, Cilacap untuk kelapa mini dan dari Malang Selatan untuk kelapa mini dan tanggung. Dalam sebulan, omset bonsai kepala milik bapak satu anak ini bisa membuat ratusan bonsai kelapa.

Dibantu enam orang karyawan, ia mengaku cukup kewalahan memenuhi pesanan. Ini lantaran bonsai kelapa mulai di lirik masyarakat di tengah pandemi virus corona. Meski bahan dasar kelapa datang setiap satu minggu sekali dengan jumlah 500 buah, namun untuk menjadikan bonsai kelapa memakan waktu cukup lama.

“Untuk prosesnya cukup lama bisa sampai sudah jadi bonsai. Cara pembuatannya, kita harus memilih kepala yang bagus yakni tua dan ada air kelapa di dalamnya. Karena jika ada air, 99 persen akan tumbuh tapi kalau tidak ada air maka akan mati. Untuk jenis, ada kelapa hijau, wulung dan janur,” ungkapnya, Sabtu (4/6/2020).

Masih kata Ricky, untuk membuat bonsai kelapa yang dipilih adalah kelapa mini karena jika kelapa besar maka hasilnya kurang bagus. Selain itu, kelapa yang dibuat bonsai adalah kepala yang sudah tua dan muncul tunas. Jika tunas belum muncul maka dipanaskan di bawah sinar matahari, pagi dan sore hari.

“Pembuatan bonsai harus menunggu sampai muncul tunas, setelah muncul tunas maka dilihat dari alur akarnya. Jika bagus maka dibuat bonsai original yakni sabut kelapa tidak dikupas, namun jika tidak bagus maka dibuat bonsai dengan cara membuang sabut kelapanya hingga bersih,” katanya.

Untuk pembuatan bonsai kelapa dengan cara membuang sabut kelapa, setelah sabut dibuat dengan cara dikupas dan diserut kemudian digosok untuk melihat alur alaminya batok kelapa. Kemudian dipernis agar terlihat lebih jelas dan bagus. Setelah itu digunakan media air agar tunas tumbuh.

“Yakni dengan memanfaatkan botol air mineral yang dipotong dan diisi air. Kemudian kelapa di taruh atasnya dengan posisi akar di bawah dan tunas menghadap ke atas yang kemudian diberi sumbu, bisa dari kain kaos karena bisa meresapkan air ke dekat dahan dan kelapa. Air tidak perlu diganti, air kotor bagus yang penting tidak ada jentik nyamuk,” jelasnya.

Dengan media air tersebut merupakan masih dalam tahap pembentukan yang bisa memakan waktu tiga bulan. Dalam waktu tiga bukan tersebut akan terlihat tunas dan akarnya arahnya ke mana. Dari media air kemudian bisa dilanjutkan ke media baru karang dan tanah. Pada proses ini bisa memakan waktu empat sampai lima bulan.

“Tergantung media dan sari-sari makanan yang ada di dalam batok. Kelapa ini bisa dibentuk seperti adanya, mau di pernis, di cat dan juga bisa di air bust menjadi gambar seperti yang diharapkan. Untuk perawatannya setelah tumbuh tunas, ada tunas yang perlu dikupas dengan model sayat mawar,” ujarnya.

Model sayat mawar tersebut saat kelapa di media air. Proses tersebut dilakukan setiap satu minggu sekali sampai muncul batang dan dipindah ke media tanah. Saat di media tanah diberikan pupuk kompos, namun saat dipindah ke media tanah sebelumnya akar ditimbun agar kuat.

“Setelah akar kuat maka baru diangkat. Semua sama prosesnya baik original yakni masih ada sabut dan dikupas sabutnya, tapi selama itu tidak boleh kena sinar matahari. Bisa dijemur di bawah sinar matahari tapi antara jam 7 sampai jam 10, cukup satu jam saja karena kalau lama, panas dan akan pecah,” tuturnya.

Ricky menambahkan, bonsai kelapa bisa hidup sampai ratusan tahun. Jika ada yang mati, itu karena hama, media, atau pupuk yang diberikan tidak alami. Yakni bisa menggunakan pupuk kompas dari kencing kambing, sapi dan kelinci, namun ada takarannya. Yakni 100 ml pupuk alami dicampur dengan air sebanyak 1 liter.

“Pupuk ini akan menghasilkan akar keras dan kuat. Sebenarnya, budidaya bonsai sudah saya tekuni sejak lima tahun lalu tapi berhenti dan coba lagi dua tahun lalu karena melihat banyak kelapa tidak terpakai dan tahun kemarin kok mulai muncul dan sekarang booming. Mojokerto mulai lebaran tahun ini,” urainya.

Menurutnya, ramainya masyarakat ingin mencari bonsai kelapa karena dimungkinkan efek lockdown dan orang-orang pada ingin berkreasi. Meski pemasaran dilakukan lewat sosial media (sosmed) dan teman-teman saja, namun ia mengaku cukup kewalahan.

“Ada yang pesen banyak tapi belum bisa menyediakan karena masih kecil sehingga saya menjanjikan empat sampai lima bulan lagi. Bahan dasar, kapa ini tidak susah meski jauh karena banyak teman di gunung dan pesisir pantai yang bisa mendapatkan kelapa-kelapa ini. Selama ini pesanan rata-rata bonsai yang belum jadi,” lanjutnya.

Yakni masih berupa tunas, kelapa, batok sama batok minion yang sudah dipelitur. Harga yang ditawarkan, untuk tunas dari kelapa batok besar Rp15 ribu, batok kecil Rp35 ribu. Batok minion antara Rp25 ribu sampai Rp40 ribu. Sementara yang sudah jadi bonsai mulai Rp350 ribu sampai Rp1,5 juta tergantung akarnya.

“Untuk pemesan memang banyak dari luar kota karena baru booming lebaran kemarin. Untuk daerah di Jawa Timur, banyak dipesan warga Malang dan Gresik, serta sejumlah daerah di Jawa Tengah hingga Bandung, Jawa Barat,” pungkasnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar