Ekbis

Dampak Ekonomi JFC Terhadap Jember Dipertanyakan

Imam Suyuti (dok humas)

Jember (beritajatim.com) – Salah satu pernyataan yang sering terlontar dari pejabat Pemerintah Kabupaten Jember maupun pelaksana Jember Fashion Carnaval adalah kegiatan karnaval tersebut memiliki dampak ekonomi positif terhadap daerah ini.

Salah satunya adalah dengan penuhnya hunian hotel dan penginapan di Jember setiap kali JFC digelar. Kawasan alun-alun di sekitar venue utama JFC dipenuhi lapak-lapak pedagang. Namun pertanyaan muncul dari Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jember. “Setelah 18 tahun (usia JFC), apa ekonomi benar-benar meningkat signifikan gara-gara JFC?” kata juru bicara FKB Imam Suyuti.

PKB memandang dampak JFC terhadap peningkatan perekonomian Jember masih belum terbukti signifikan. Sampai hari ini memang belum pernah ada siaran resmi dari lembaga-lembaga pemangku kebijakan yang menunjukan dampak ekonomi JFC terhadap perekonomian Jember umumnya secara kuantitatf.

Kritik soal dampak signifikan perekonomian JFC terhadap Jember pernah dikemukakan Kepala Kantor Bank Indonesia Jember Achmad Bunyamin, dalam sebuah diskusi dengan wartawan soal perkembangan ekonomi dan pariwisata di Hotel Aston, awal Juni 2015.

Menurut Bunyamin, JFC hanya berpotensi menarik wisatawan ke Jember dalam periode yang pendek, yakni satu atau dua hari sebelum hari penyelenggaraannya atau saat penyelenggaraan. “Saat JFC berlangsung memang perputaran uang kencang. Tapi setelah itu tidak ada lagi,” katanya saat itu.

Wakil Bupati Abdul Muqit Arief mengatakan, ‘road map’ pengembangan ekonomi dan tema pembangunan tahun ini adalah ‘Jember kota mandiri dan Jember kota wisata berbudaya’. “Sebagai bentuk operasionalisasi teknis dan konsistensi dari tema pembangunan 2019 adalah penguatan ekonomi pada sektor-sektor prioritas, salah satunya adalah pariwisata dan budaya,” katanya.

“JFC sebagai even tahunan menjadi maskot pariwisata dan budaya, juga memiliki multiplier effect yang menggerakkan beberapa sektor ekonomi lainnya antara lain perhubungan, jasa, perdagangan, dan beberapa sektor lainnya. Sudah tentu untuk meningkatkan daya saing daerah perlu memiliki nilai tambah selain dari sektor ekstraktif yang secara tradisional menjadi buffer (penopang) ekonomi lokal,” kata Muqit.[wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar