Iklan Banner Sukun
Ekbis

Cuaca Tak Menentu, Harga Cabai di Pasar Keputran Naik

Kios cabai di Pasar Keputran

Surabaya (beritajatim.com) – Harga cabai di beberapa pasar di Surabaya mengalami kenaikan yang signifikan. Pantauan beritajatim pada Jumat (27/05/2022) harga cabai di kisaran 41 ribu hingga 50 ribu perkilogramnya. Menurut cerita para pedagang, naiknya harga cabai diduga lantaran cuaca yang tidak menentu.

Agus (43) Salah satu pedagang di Pasar Keputran, mengatakan, cabai rawit kualitas yang biasa miliknya dibanderol dengan harga 42 ribu per kilogram. Menurutnya, Harga tersebut sudah diberlakukan sejak Rabu (25/05/2022). “Ini saya jual Rp 42.000 per kilonya, kalau langganan biasanya Rp 41.000,” kata Agus di Pasar Keputran.

Agus menambahkan, untuk cabai yang kualitas bagus, ia menjual dengan harga 48 ribu hingga 50 ribu untuk perkilonya. “Yang bagus juga ada, tapi harganya Rp 50.000, langganan agak beda (harganya) Rp 48.000 an perkilo,” ucapnya.

Agus mengungkapkan, harga tersebut mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan seminggu yang lalu. Sebab, saat itu harga cabai masih menyentuh Rp 32.000 per kilogramnya. “Akhir-akhir ini naik terus, gak tahu kenapa, sepertinya karena cuacanya yang jarang ada panas ini,” ujarnya.

Selain Cabai, harga tomat dan terong juga mengalami kenaikan di Pasar Keputran. Akhmad salah satu pedagang mengatakan di tokonya yang mengalami kenaikan adalah terong dan tomat, sedangkan untuk timun serta kubis masih normal. “Tomat yang naiknya lumayan, Rp 14.000, minggu kemarin masih Rp 8.000. Terus terong juga agak mahal Rp 10.000. Kalau kubis naik tapi masih normal Rp 9.000, timun Rp 6.000,” kata Ahmad.

Sementara itu, pedagang di Pasar Tambah Rejo, Lilik mengungkapkan keluhan yang serupa. Di tempatnya, cabai rawit dijual dengan harga sekitar Rp 68.000 per kilogramnya. “Aku jual seperempat (kilo) Rp 17.000, jadi satu kilonya sekitar Rp 68.000. Kalau cabai besar Rp 40.000 satu kilo, timun sama kubis sama Rp 10.000,” kata Lilik.

Lilik mengatakan, mahalnya harga bahan makanan tersebut lantaran sudah adanya kenaikan di pasar induk. Akhirnya, ia pun terpaksa ikut menaikan harga agar tidak menelan kerugian. “Kulakanya (bahan makanan) sudah mahal, terus mau tak jual berapa? Rugi nanti,” jelasnya. (ang/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar