Ekbis

Citibank Bukukan Laba Bersih Rp 1,4 Triliun

Chief Executive Officer Citibank N.A., Indonesia Batara Sianturi

Jakarta (beritajatim.com) – Pada semester pertama (Januari-Juni) 2020, Citibank N.A., Indonesia (Citibank) melaporkan laba bersih sebesar Rp 1,4 triliun. Selama periode berjalan Citibank meningkatkan cadangan kerugian kredit, yang mencerminkan penurunan outlook makro ekonomi sebagai akibat pandemi COVID-19.

Namun demikian Citibank tetap mencatatkan kinerja yang positif, termasuk mencatatkan Return on Equity dan Return on Assets sebesar masing-masing 15,5% dan 4%.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, Citibank tetap memiliki tingkat kecukupan modal yang sangat baik dengan mencatatkan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 26%.

Disamping itu, selama semester pertama 2020, jumlah Dana Pihak Ketiga meningkat sebesar 8,4% menjadi sebesar Rp 59 trilliun.

Citibank tetap memiliki tingkat likuiditas yang sangat baik dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang relatif stabil di angka 78,5% serta Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar masing-masing 232% dan 132%.

Selain itu, Citibank juga terus menjaga kualitas kredit, dimana bank melaporkan NPL Gross dan Net masing- masing sebesar 2,5% dan 0,3%.

Chief Executive Officer Citibank N.A., Indonesia Batara Sianturi

Chief Executive Officer Citibank N.A., Indonesia Batara Sianturi mengatakan Ditengah situasi akibat pandemi ini, kami berkomitmen untuk terus menjaga tingkat likuiditas perusahaan. Saat ini neraca kami memiliki kapasitas untuk terus melayani serta mendukung kebutuhan finansial dari para nasabah kami.

“Dengan penekanan yang kuat pada manajemen resiko serta keselamatan dan kesehatan para karyawan serta nasabah, kami siap dengan berbagai kemungkinan skenario yang akan terjadi serta berkomitmen untuk terus melayani dengan memegang prinsip kehati-hatian.”kata Batara.

Di lini Institutional Banking, kami terus membantu klien kami dalam menavigasi volatilitas di pasar serta dipilih sebagai mitra yang stabil dalam lingkungan ekonomi seperti saat ini.

“Dalam Markets and Securities Services, kami mendukung para klien yang kami miliki dengan memanfaatkan platform Citi Velocity dan kemampuan eksekusi secara elektronis. Dalam Treasury and Trade Solutions kami terus bekerja dengan klien kami untuk mempertahankan operasi mereka, mengelola rantai pasokan serta mengoptimalkan modal kerja dan likuiditas yang mereka miliki,” tambahnya.

Di Consumer Banking, Citibank dan Garuda Indonesia kembali memperkuat kerjasama dalam layanan Garuda Indonesia Citi Card (GICC), melalui penambahan manfaat serta fitur loyalty program dalam Garuda Indonesia Citi Card.

Di tengah keterbatasan mobilitas masyarakat saat ini, Citibank juga turut mengkomunikasikan penggunaan kanal digital bagi para nasabah guna melakukan transaksi perbankan sehari-hari.

Hal ini berkontribusi dalam pertumbuhan 76% dalam hal penggunaan Citi Mobile secara year-
on-year hingga Juli 2020.

Citibank juga menggelar berbagai seminar Economic Outlook bagi para klien dan investor yang disampaikan oleh Citi Indonesia Chief Economist Helmi Arman. Dalam paparannya beliau menjelaskan bahwa normalisasi aktivitas ekonomi terus berlanjut di kuartal 3.

Sementara itu resiko terjadinya penarikan arus modal portofolio seperti pada kuartal 1 sudah mengecil. Sektor perbankan pun diperkirakan tetap sehat dan siap untuk mendukung pemulihan ekonomi setelah gelombang restrukturisasi diselesaikan.

“Pemulihan ekonomi akan dimulai dengan normalisasi belanja ritel dan bersifat kebutuhan sehari-hari. Normalisasi belanja untuk barang-barang tahan lama yang bernilai besar akan menyusul belakangan, seiring dengan pemulihan tingkat keyakinan konsumen dan membaiknya ketersediaan kredit”, jelas Helmi.

Lebih lanjut, Helmi menuturkan bahwa permodalan perbankan akan terjaga dengan baik walaupun saat ini menghadapi gelombang restrukturisasi kredit.

“Tentunya restrukturisasi kredit akan mempengaruhi kinerja dan profitabilitas perbankan dalam jangka pendek, namun permodalan tidak akan tergerus secara signifikan. Rasio modal perbankan cukup tinggi ketika memasuki masa pandemi. Perbankan masih akan mampu mendukung perekonomian di masa pemulihan,” tutup Helmi. (ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar