Ekbis

Cinta Sawit Ala Mahasiswa

Surabaya (beritajatim.com) – Sawit selalu indentik dengan isu kerusakan lingkungan. Negara Eropa dan Amerika menjadi negara yang paling keras menggaungkannya. Namun tahukah anda dibalik itu semua sawit ternyata memberikan devisa yang paling besar pada negara Indonesia karena ekpsornya yang besar US$20,54 miliar pada tahun 2018 atau 30 persen lebih dari total devisa.
Belum lagi banyaknya tenaga kerja yang terlibat dalam industri kelapa sawit maupun perkebunannya yang mencapai 50 juta orang. Dan kini crude oil sawit pun bisa diolah menjadi bahan bakar dan 20 persen dari bahan solar berasal dari minyak nabati sawit.
“Kedepan minyak nabati sawit akan bisa menjadi bahan baku utama pembuat solar bahkan Pertamax. Dan sebagai negara yang memiliki produksi terbesar sawit dunia, tentu kita sudah sangat siap dengan ketersediaan bahan baku minyak nabati ini,” ungkap Ketua Bidang Komunikasi GAPKI, Tofan Mahdi, dalam kegiatan Surabaya Sawit Amazing Race 2019 yang dihadiri para mahasiswa se Kota Surabaya di Monumen Kapal Selam Surabaya, Sabtu (14/9/2019).
Minyak olahan sawit tak hanya untuk minyak goreng semata, tetapi sejumlah produk kebutuhan sehari-hari pun membutuhkan sawit diantaranya makanan seperti minyak goreng,  margarin, mentega,  mie instan hingga coklat.  Serta berbagai produk kecantikan dan kosmetik berupa lipstik,  shampoo serta sabun.
“Di perusahaan kami juga terus melakukan sustainable lingkungan. Namun setiap ada kebakaran hutan, kelapa sawit lah yang menjadi kambing hitamnya, padahal semuanya tahu jika moratorium sawit sudah berjalan yang artinya tak boleh lagi menambah lahan baru. Jadi tidak mungkin kami melakukan pembukaan lahan dengan membakar,” jelasnya.
Image negatif yang selalu disematkan pada perkebunan sawit  ini membuat Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sawit melakukan roadshow diberbagai kota termasuk Surabaya. Sasarannya adalah kaum milenials, sebab mereka adalah penerus bisnis sawit di tanah air nantinya. Agar generasi muda tak membenci sawit.
“Kedepan sawit di Indonesia akan tetap menjadi penopang perekonomian negara ini, otomatis kami harus menyiapkan generasi yang kenal dan cinta pada produk sawit,” tambah Kepala Divisi Perusahaan BPDP Kelapa Sawit, Achmad Maulizal Sutawijaya.
Stakeholder di perkelapasawitan memang bertanggung jawab untuk memberikan informasi yang benar tentang sawit. Industri ini bukan industri yang membahayakan. Industri ini bukan industri yang tidak memilki masa depan. Dan yang perlu terus digaungkan kepada semua lapisan masyarakat adalah sawit telah memberikan manfaat bagi kita semua. Tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk dunia.
‘Generasi milenial dan generasi Z harus harus mendapatkan asupan informasi yang benar tentang kelapa sawit dan produk-produk turunannya. Mereka harus tahu sejarahnya, perkembangan saat ini dan masa depannya,” tandasnya.[rea]




Apa Reaksi Anda?

Komentar