Ekbis

Budidaya Lobster di Tengah Pandemi Covid-19, Omzet Justru Naik 3 Kali Lipat

Seorang pekerja menunjukkan lobster air tawar jenis Red Claw (Konsumsi) hasil budidaya RR Ayu Nandita Maharani (24).

Mojokerto (beritajatim.com) – RR Ayu Nandita Maharani (24) warga Jalan Anjasmoro, Lingkungan Wates, Kota Mojokerto sukses membudidayakan lobster air tawar. Di tengah pandemi Covid-19, omzet usaha yang dirintis selama lima tahun lalu ini justru naik tiga kali lipat hingga Rp250 juta per bulan.

Sempat pesimis bakal terdampak saat awal pandemi Covid-19, namun kenyataannya justru pesanan dan petani mitra yang bergabung semakin meningkat. Dalam kondisi normal dalam sehari ada lima orang petani mitra bergabung namun sekarang melebihi 20 sampai 30 orang bergabung menjadi mitra.

“Apalagi, banyak pengurangan tenaga kerja dan WFH (Work From Home) akibat dampat pandemi sehingga memicu masyarakat beralih fokus untuk budidaya lobster air tawar. Omzet justru naik justru tiga kali lipat dari kondisi normal, dari sekitar Rp100 juta per bulan menjadi Rp250 juta per bulan,” ungkapnya, Kamis (26/11/2020).

Masih kata Ayu (panggilan akrab, red), ia memiliki kolam budidaya ikan lobster air tawar yang seluruhnya berukuran 2 meter x 1 meter dan berjumlah 30 kolam. Di rumah sederhana orang tuanya, alumni SMA Taman Siswa Kota Mojokerto ini, dipenuhi puluhan kolam berbahan terpal dengan konstruksi kayu.

“Ada dua jenis lobster yang dibudidayakan di sini yaitu Red Claw (Konsumsi) dan Carki dari empat jenis lobster air tawar di Indonesia. Untuk perawatan lobster air tawar ini hampir sama dengan budidaya perikanan pada umumnya. Tentunya, perlu ketelatenan didukung teknik dan keterampilan khusus yang secara teori cukup mudah diaplikasikan,” katanya.

Ayu menjelaskan, perlu perhatian khusus untuk budidaya lobster air tawar yakni kondisi air yang harus diendapkan terlebih dahulu, memasang pipa paralon ukuran kecil untuk tempat sembunyi lobster di dalam kolam. Pemberian pakan lobster air tawar juga harus tepat waktu minimal dua kali sehari, bisa menggunakan pelet, ubi dan lainnya.

“Budidaya lobster air tawar jenis Carki lebih susah karena lobster ini punya sifat kanibal, lebih tinggi dan perkembangbiakkan kawin musiman. Sedangkan lobster Red Claw lebih mudah dibudidayakan, mulai dari pembesaran hingga benih. Petani mitra binaan, ada sekitar 1.320 orang mulai dari 2015 sampai sekarang,” ujarnya.

Ribuan petani mitra binaan ini berasal dari seluruh tanah air, seperti mulai Jawa Timur, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Usaha budidaya lobster air tawar ini juga menyerap tenaga kerja lokal. Mayoritas pekerjaannya adalah anak muda milleneal yang begitu telaten merawat lobster air tawar tersebut.

“Hasil panen petani binaan setiap satu kilogram lobster air tawar berharga sekitar Rp100 ribu sampai Rp250 ribu. Untuk pekerja yang membantu saya, ada sekitar 25 orang. Untuk udidaya lobster air tawar, tidak butuh modal banyak dan bisa memanfaatkan lahan terbatas. Kolam ukuran 1 meter x1 meter dan bibit atau indukan lobster dapat dibeli sesuai paket mulai dari harga Rp16 ribu sampai Rp600 ribu,” jelasnya.

Dengan garansi pemeliharaan selama tiga hari, jaminan lobster gendong telur yaitu jaminan jika selama satu bulan gagal maka akan diganti dengan indukan lobster bertelur secara gratis. Sehingga budidaya lobster air tawar yang begitu menggiurkan karena dapat menjadi ketahanan pangan selama Pandemi. Apalagi, lobster merupakan makanan seefood bernilai ekonomi ini sangat laku di pasaran lokal maupun luar negeri.

“Fasilitas kita untuk mitra petani binaan kita, kita mengajarkan mereka budidaya lobster dan mitra bebas untuk belajar dan hasil panen lobster air tawar kita tampung. Budidaya lobster air tawar hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan (benih) dan lima bulan (konsumsi). Pembesaran benih lobster air tawar mulai dari ukuran tiga inci yang dibesarkan untuk keperluan konsumsi,” paparnya.

Masih kata Ayu, kobster air tawar konsumsi dapat dipanen dari beratnya minimal 50 gram atau sekitar 15 sampai 20 ekor untuk 1 kg. Pemasaran hasil panen lobster air tawar ini juga dinilai Ayu, tergolong cukup mudah lantaran potensi market masih yang terbuka lebar.

“Lobster Red Claw konsumsi didistribusikan melalui restoran dan sebagian dijual ke pasaran dan lobster Carki atau hias berwarna biru dan merah dipasarkan melalui toko-toko ikan hias. Jadi untuk pemasaran masih cukup menjanjikan meski di tengah pandemi Covid-19,” pungkasnya. [tin/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar