Ekbis

Boneka Amigurumi Banyak Diburu untuk Kado dan Hiasan Rumah

Sejumlah kerajinan rajut milik Zahrotul Aliyah. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Perkembangan zaman menjadi tantangan Zahrotul Aliyah warga Desa Randubango, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto untuk mengembangkan karyanya. Bermodalkan kejelian menangkap peluang bisnis, membuatnya bisa menjadi salah satu produsen kerajinan tas hingga boneka amigurumi berbahan rajut.

Zahro (sapaan akrab, red) belajar secara otodidak untuk mengembangkan bisnisnya karena sebelumnya, dia sempat ingin membuat lampu hias dari kain wol. Tetapi tidak sesuai harapan. Sempat menyerah, tapi kemudian dia iseng-iseng mencari di internet berbagai kreasi dari benang. Hingga akhirnya dia menemukan boneka rajut yang lucu dan unik.

Yakni boneka amigurumi. Namun sebelum diminati pemesan hingga luar Mojokerto, perempuan berjilbab ini membuat kerajinan rajut asal-asalan berupa tempat handphone (HP). Dari karya tangannya itu ternyata mendapat respon positif dari teman-temannya. Kali pertama temannya memesan Zahro berupa syal rajut.

Untuk memulai bisnis boneka amigurumi, modal awalnya hanya Rp200 ribu dari hasil tabungannya. Ia mengaku tidak mudah membuat boneka amigurumi karena ia belajar secara otodidak. Sementata tidak semua orang bisa merajut terutama untuk membuat kerajinan boneka rajut.

“Karena bentuknya yang unik dan lucu, dari situ saya mulai tertarik. Tapi memang dibutuhkan kesabaran, ketelitihan dan harus banyak berimajinasi. Saya mempunyai hobby merajut sejak tahun 2014. Awalnya, bikin tas selempang, tas laptop, gantungan kunci, bantal, topi, tempat pensil, dompet, mainan anak kecil dan tempat tissu,” ungkapnya, Sabtu (2/5/2020).

Masih kata gadis kelahiran 1998 ini, harganya yang dipatokpun cukup beragam. Mulai dari Rp20 ribu sampai Rp175 ribu tergantung keribetan dan ukuran pemesanan. Menurutnya, banyak resiko yang harus dihadapi dalam menekuni bisnis tersebut. Bahkan, dia harus memutuskan untuk berhenti kuliah hingga dua kali. Keputusan itu tentunya berat dan membuat orang tuanya kecewa.

“Sempat berhenti kuliah sampai dua kali. Tetapi sekarang orang tua saya mendukung usaha saya ini, dan mulai faham kalau saya putus kuliah hanya ingin fokus dengan bisnis ini terlebih dahulu. Karena bisnis rajut ini cukup menjanjikan. Keuntungan pun sampai 50 persen dari modal yang dipakai,” jelasnya.

Alhasil, sejumlah orderan kian deras mengalir. Tak hanya dari Mojokerto, melainkan juga sejumlah luar daerah. Seperti, Surabaya, Sidoarjo dan sejumlah kota besar di Indonesia. Itu setelah dia memanfaatkan media sosial (medsos) dalam memasarkan hasil karyanya. Meski banyak kerajinan yang dibuatnya, hingga detik ini boneka amigurumi masih menjadi pilihan para konsumennya. “Tapi pemesan banyaknya yang pesan boneka amigurumi karena memang bentuknya yang lucu dan unik. Biasanya, mereka pesan untuk kado ulang tahun dan sebagai hiasan rumah,” pungkasnya.[tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar