Ekbis

BMKG Jatim Gelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan Binaan PGN Saka

Gresik (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Timur menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) serta penanaman simbolis bibit mangrove. Kegiatan dilaksanakan di lokasi ekowisata mangrove Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati menuturkan, kegiatan SLCN merupakan pembekalan informasi dan pengetahuan terkait cuaca kepada nelayan melalui pemanfaatan website guna memudahkan nelayan untuk mengetahui update kondisi terkini cuaca dan kemaritiman dari berbagai titik.

“Tujuan dari Sekolah Lapang Cuaca Nelayan ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada nelayan tentang cuaca dan kemaritiman,” tuturnya, Kamis (15/04/2021).

Selain kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), juga dilaksanakan penanaman bibit mangrove oleh Kelompok Pelestari Mangrove dan Lingkungan (KPMLB) Desa Banyuurip.

Dipilihnya Desa Banyuurip karena keberadaan desa tersebut menjadi pusat pembibitan tanaman mangrove. Dimana, inisiasi serta pendampingan sebagai tempat ekowisata dilakukan oleh perusahaan minyak dan gas (Migas) PGN Saka melalui program CSR.

“Melalui pendampingan yang intens, kelompok lingkungan dari nelayan difasilitasi belajar budidaya mangrove dan konservasi lingkungan pesisir. Sehingga kami saat ini mempunyai pusat pembibitan mangrove,” kata Abdul Mughni selaku Ketua Kelompok Pelestari Mangrove dan Lingkungan Banyuurip (KPMLB).

Ia menambahkan, keberadaan pusat pembibitan mangrove Desa Banyuurip ada sejak tahun 2014. Hal iti diawali adanya kesadaran pentingnya konservasi mangrove untuk menahan proses abrasi pantai.

“Pengembangan konservasi mangrove dimulai dari permasalahan sejak tahun 2007. Saat itu, adanya abrasi di pesisir Desa Banyuurip sekitar 300 meter. Selain itu, daerah ini merupakan lokasi aktivitas nelayan yang tergolong gersang dan kumuh,” imbuhnya.

Sementara itu, Endro Probo Penanggungjawab CSR PGN Saka menyatakan tanaman mangrove merupakan salah satu tumbuhan yang mampu menyerap karbon dalam jumlah yang besar. Semakin lestari kawasan mangrove akan berpengaruh terhadap iklim di darat dan laut.

“Kami terus berkomitmen memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar melalui program lingkungan. Harapannya seluruh elemen masyarakat khususnya nelayan bisa memahami pentingnya menjaga lingkungan. Sebab, tanaman mangrove juga menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap kondisi cuaca dan iklim,” pungkasnya. [dny/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar