Iklan Banner Sukun
Ekbis

Bikin Pupuk Organik dari Limbah Ternak, Berdayakan Para Ibu Rumah Tangga

Sejumlah pekerja membungkus pupuk organik produksi sendiri dari hasil pengelolaan limbah dan kotoran hewan ternak sapi.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Usaha pupuk organik dari limbah dan kotoran ternak sapi yang dikembangkan Abdul Mukharom dari bina usaha pupuk Griyorojokoyo Dukuh Kedungdowo RT 02 RW 01 Desa Kedungdowo Kecamatan Balen Kabupaten Bojonegoro mampu berdayakan warga sekitar terutama para ibu rumah tangga.

Abdul Mukharom menjelaskan, usaha pupuk organiknya memiliki jumlah pekerja sebanyak 20 orang warga sekitar, sebagian besar ibu-ibu rumah tangga. Selain pekerja pengolahan pupuk dari limbah dan kotoran hewan ternak itu juga memberdayakan pemilik hewan ternak di sekitar lokasi sebagai bahan baku.

“Ini bisa membantu pendapatan keluarga mereka,” ujarnya, Jumat (11/3/2022).

Mukharom menambahkan bahwa pupuk kompos atau organik merupakan salah satu pupuk favorit yang banyak digunakan karena berasal dari bahan yang tidak mengandung unsur kimia berbahaya dan bisa dibuat sendiri tanpa harus menggunakan alat-alat yang rumit.

Tidak hanya itu saja, tanaman hias yang diberikan pupuk kompos biasanya akan menghasilkan daun, buah dan bunga dengan kualitas yang baik. Dari segi harga juga cukup terjangkau. Harga produk kemasan hasil olahan limbah peternakan ukuran 25 kg dijual Rp25 ribu dan kemasan 2,5 kg sebesar Rp5 ribu.

“Sejauh ini pemasaran dilakukan secara online maupun offline. Satu hari biasanya menghasilkan 2 ton pupuk. Sebenarnya bisa lebih besar lagi namun terkendala kurangnya daya tampung tempat,” pungkasnya.

Selain Mukharom, Winarsih pemilik usaha Bank Sampah Mawar di Desa Kedungdowo juga memiliki usaha sejenis dengan omset yang cukup baik. Winarsih menceritakan usahanya berawal dari memanfaatkan bahan baku berambut yang melimpah dan keprihatinannya akan sampah.

Dirinya berinisiasi untuk membuat pupuk dan media tanam organik dengan bahan dari berambut dan kotoran hewan. Kini, dari hasil penjualan pupuk dan media tanam organik itu dia mengaku setiap bulan bisa meraup omzet hingga Rp1 juta per bulan. “Alhamdulillah bisa menambah penghasilan, dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. [lus/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar