Ekbis

Beromset Rp7 Juta/Bulan, Janda Dua Anak di Mojokerto Sukses Usaha Makaroni Pedas

Proses pembuatan macaroni pedas milik Nurul Khotimah (41) di Perumahan Wisma Sooko Indah Jalan Paus BB 21, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Berawal harus membiayai kedua anaknya sendiri sejak ditinggal sang suami tiga tahun lalu, Nurul Khotimah justru sukses mengembangkan usaha makaroni pedas. Dari kegigihannya tersebut, omzet usaha perempuan 41 tahun ini mencapai Rp 7 juta/bulan.

Di rumah kontrakan yang terletak di Perumahan Wisma Sooko Indah Jalan Paus BB 21, Desa Sooko, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, ia bersama empat karyawan bergelut dengan macaroni. Macaroni berbagai jenis ini dibuat berbagai level rasa pedas.

Usaha alumni Universitas Merdeka (Unmer) Malang Fakultas Akutansi ini dimulai sejak 2019. Saat itu, ia harus mencukupi kebutuhan kedua anaknya saat ditinggal sang suami tanpa kabar. Ia kemudian usaha berjualan makaroni pedas berkeliling dari toko ke toko.

“Awalnya semua dilakukan sendiri, goreng, ngemas, jual sendiri. Awalnya berjualan keliling dari toko ke toko dan online. Di online banyak reseller yang masuk, awalnya kulakan di daerah Rolak 9 dan diajari. Tidak datang tapi diajari lewat telepon,” ungkapnya, Rabu (25/1/2023).

Dari situ, ia kemudian merekrut karyawan untuk membantu merintis usahanya. Ada empat orang karyawan yang direkrut, muka dari saudara sampai lingkungan sekitar. Usaha yang dirintisnya pun tumbuh subur hingga bisa kirim ke sejumlah daerah hingga luar negeri.

“Pelanggan sudah mulai banyak, dibantu reseller. Alhamdulillah sekarang sudah bisa masuk ke agen snack dan pasar. Alhamdulillah bisa kirim ke luar kota, luar Jawa Timur, luar negeri. Seperti ke Hongkong, pernah juga. Untuk produksi, tergantung pesanan,” katanya.

Dalam sehari, ia bisa memproduksi makaroni 20 kg dan kerupuk dua sampai tiga ball. Untuk jenis-jenisnya, ada makaroni bantet, macaroni bentuk spiral, krupuk seblak, seblak bawang, seblak udang, seblak mawar, basreng dan kerupuk kacang.

“Ada kemasan eceran, ada juga kiloan. Kemasan mulai harga Rp500, Rp1.000 dan Rp3.000. Untuk kilo, mulai Rp 36 ribu sampai Rp 50 ribu. Setiap hari produksi. Omzet per bulan perkiraan antara Rp5 juta sampai Rp7 juta. Alhamdulillah bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.

Ia bersyukur dengan usaha yang digeluti sejak tiga tahun tersebut, selain bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, juga untuk biaya kedua anaknya. Anak pertamanya saat ini duduk di bangku kelas III Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan anak keduanya duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar (SD). [tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar