Ekbis

Berawal dari WFH, Warga di Mojokerto Tekuni Akuarium Hias

Mojokerto (beritajatim.com) – Berawal harus menjalani Work From Home (WFH) karena pandemi Covid-19, membuat warga Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini mempunyai banyak waktu di rumah. Dari tujuh hari dalam seminggu, lima hari ia habiskan di rumah.

Karena banyaknya waktu di rumah, membuatnya berfikir untuk mengembangkan hobbynya sebagai penyuka ikan hias kecil. Ialah Mamat Hariono (38). Ikan hias tentunya membutuhkan tempat yakni akuarium, bapak dua anak ini pun membuat aquascafe atau akuarium hias.

Aquascafe adalah seni mendekorasi pemandangan dalam akuarium ikan. Uniknya, dalam aquascafe ini tak hanya sekedar meletakkan tanaman-tanaman bawah air, batuan atau kayu-kayuan, tetapi juga menuntut estetika seni, ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Aquascafe adalah membuat kebun di dalam akuarium.

Kebun dalam akuarium tersebut diisi tanaman air, kayu, batu dan ikan. Tapi, bukan asal mengisinya namun yang terpenting dalam membuat aquascafe ialah semua komponen itu alami tanpa buatan dan ekosistemnya yakni ikan dapat hidup seperti di alam sesungguhnya.

Meski awalnya hanya untuk digunakan ikan hias koleksinya sendiri, namun aquascafe buatnya banyak dilirik. Meski hanya kalangan saudara dan teman saja, namun sejumlah aquascafe berbagai ukuran sudah ia ciptakan selama WFH. Namun hingga kini ia belum Percaya Diri (PD) memasarkan lewat media sosial (medsos).

“Karena masih banyak yang lebih bagus dari yang saya buat, awalnya memang tidak untuk dijual, saya suka ikan hias yang jenisnya kecil-kecil. Seperti ikan cupang, ikan guppy, ikan corydoras, ikan komet dan udang. Karena lebih mudah dipelihara dan tidak perlu repot merawatnya,” ungkapnya ditemui di rumahnya, Sabtu (5/12/2020).

Selain itu, lanjut Mamat, biaya pemeliharaannya pun tergolong murah daripada biaya pemeliharaan ikan hias ukuran besar. Menurutnya, selain hobby memelihara ikan hias, sebelum pandemi Covid-19 melanda bulan Maret lalu, ia juga sudah membuat akuarium. Namun tidak fokus lantaran ia harus bekerja di Surabaya.

“Sebelum pandemi sudah karena hobby saja, tapi belum dijual karena tidak fokus. Saya kerja di Surabaya berangkat pagi hingga malam tapi karena pandemi, saya WHF. Hanya dua hari kerja dalam seminggu, daripada nganggur dan jenuh karena banyak waktu di rumah. Saya menyalurkan hobby yang bisa menghasilkan,” katanya.

Ia tidak memiliki keahlian khusus dalam membuat aquascafe. Ia belajar secara otodidak melalui aplikasi YouTube. Untuk menyisi aquascafe, ia mencari kayu di sekitar rumahnya yang dinilai memiliki nilai seni. Namun untuk tanaman hias seperti anubias, akar senggani, akar rasamala.

“Tanaman aquascafe tidak hanya berfungsi sebagai hiasan saja, tetapi sering digunakan sebagai tempat tinggal ikan. Ikan-ikan dalam akuarium sangat gemar bersembunyi di antara tanaman yang ada dalam akuarium sehingga penempatan tanaman aquascafe dalam akuarium sangatlah penting,” tuturnya.

Sama seperti tanaman yang hidup di darat, tanaman aquascafe membutuhkan CO2 untuk proses fotosintesis. Sehingga selain, kayu, pasir, batu, vosil dan tanaman juga dibutuhkan tabung CO2 untuk membuat aquascafe. Tabung CO2 ditempatkan dekat akuarium untuk menyuplai gas CO2 pada tanaman aquascafe.

“Kalau bentuk candi dari batu yang saya tempatkan di aquascafe itu kerja sama dengan pengrajin patung. Memang keinginan saya kedepan, ada ciri khas di aquascafe yang saya bikin. Tapi semua tergantung permintaan pemesan, termasuk ukuran akuarium, jenis tanaman dan aksesoris yang ada di dalamnya,” ucapnya.

Mamat menjelaskan, dalam pembuatan aquascafe tidak diperlukan waktu lama jika semua bahan sudah siap semua. Seperti untuk akuarium ukuran 40 cm x 30 cm, lanjut Mamat, jika semua peralatan dan bahan ada semua maka dalam waktu satu hari ia sudah mampu membuatnya.

“Selain saya tidak PD memasarkan lewat media sosial karena masih banyak yang lebih bagus dari bikinan saya, ini sekua saya kerjakan sendiri jadi saya masih melayani pesanan dari saudara dan teman saja. Pemesanan rata-rata sudah penghobby ikan hias yang sudah punya akuarium sehingga mereka membawa akuarium sendiri,” urainya.

Sehingga ia hanya mengerjakan aquascafe tanpa membeli akuarium baru. Hingga kini, ia belum bisa mematok harga dalam setiap ukuran akuariumnya karena semua tergantung pemesan. Pemesan akan ditawarkan terkait isi di dalam aquascafe nantinya sehingga ini yang menentukan harga.

“Yang mahal itu tanaman hiasnya, ini standar rumahan. Jadi bisa request tanaman dan aksesoris di dalamnya, nanti baru bisa menghitung biaya pembuatannya. Kalau standar, ukuran 30 cm x 40 cm, saya jual Rp1 juta. Aquascafe yang penting perputaran air, melihat kondisi air dan cuaca karena kalau panas pengaruh,” ujarnya.

Cuaca panas selain berpengaruh ke tanaman juga ke ikan yang ada di dalamnya. Dalam satu minggu, Mamat menyarankan agar air di dalam aquascafe diganti. Yakni dengan cara mengurangi sebagian kemudian ditambah. [tin/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar