Ekbis

Begini Cara Bus Bagong Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Malang (beritajatim.com) – Perusahaan Otobus (PO) Bagong masih meniadakan setoran bagi para sopir. Hal ini mengingat sejak kembali beroperasi pekan lalu, penumpang bis Bagong masih belum menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Direktur PT Bagong Dekaka Makmur, Budi Susilo menjelaskan bahwa, sudah 10 hari terakhir ini, pasca bis Bagong beroperasi, para sopir dibebaskan dari setoran. “Masih free setoran, karena uji coba 7 hari kemarin tidak mampu atau belum mampu. Jadi, penumpang masih satu dua saja,” ujar Budi, Senin (15/6/2020) sore.

Menurut Budi, kebijakan meniadakan setoran bagi sopir ini berlaku hingga kondisi benar-benar sudah normal. Hingga kini meskipun telah beroperasi, PO Bagong mengaku sudah merugi puluhan juta rupiah.

“Penumpang ini benar-benar turun drastis, memang kondisinya betul-betul tidak ada penumpang. Tapi kalau tidak berani tampil, ya penumpang tidak akan tahu kalau sudah beroperasi. Sekarang kan memang berdampak pada semua, sekolah masih libur, sebagian besar pekerja juga masih di rumah,” terangnya.

Budi melanjutkan, saat ini pihaknya hanya bisa mengandalkan jam-jam tertentu untuk mengangkut penumpang. “Setiap hari kita monitor, setiap sopir kita wajibkan untuk melapor, memfoto atau memvideokan jumlah penumpang. Dengan kondisi seperti ini kan harus sama-sama jujur. Nanti baru bisa menentukan normal atau tidaknya. Karena di Malang ini kan transportasi tidak bisa 6 rit (sekali jalan antar terminal, red) bagus semua. Cuma jam-jam tertentu, seperti mulai jam 6 sampai 7 pagi,” ulasnya.

Budi pun mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya hanya bisa bertahan. Dia berharap pandemi ini bisa segera berakhir dan semuanya kembali seperti semula.

“Per hari ini, Gadang – Blitar itu 5 unit yang beroperasi, Arjosari – Blitar 10 unit. Sementara jamnya masih acak. Kita terus koordinasi dengan driver terkait jam-jamnya. Untuk sementara BBM (bahan bakar minyak, red) mereka modal sendiri, kita tidak ada subsidi. Kan ini memang di coba dulu, kalau terus rugi ya masuk lagi ke garasi. Faktor pertama saat ini kan masyarakat banyak yang takut keluar rumah, dan kebijakan pemerintah memang menganjurkan itu. Kedua, faktor ekonomi, kalau pandemi ini berakhir ya bisa, kalau tidak kan memang harus hemat,” pungkas Budi. (yog/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar