Ekbis

BBM Satu Harga, Semangat Tulus Menyalurkan Energi untuk Indonesia

Surabaya (beritajatim.com) – Dari Sabang sampai Merauke, kita pasti sudah tidak asing dengan lirik lagu ciptaan R. Suharjo ini. Inilah Indonesia, Tanah air yang kita cintai, sebuah negara kepulauan dengan 17.000 pulau dan ratusan juta penduduknya. Terbentang luas dari ujung Barat hingga ujung Timur dengan beragam suku dan budayanya. Bersatu dalam kesatuan Bhinneka Tunggal Ika, dibawah semangat dan energi sangsakala Merah Putih Indonesia.

Namun, semangat untuk mempertahankan energi yang sama dibawah sangsakala Merah Putih menjadi sulit ketika terjadi adanya perbedaan kondisi geografis di negara yang kita cintai ini. Sulitnya menyetarakan energi di kepulauan terluar, terdalam, dan tertinggal menjadi tantangan bagi Ibu Pertiwi demi menghasilkan senyuman yang sama untuk anak-anaknya di negeri ini.

Pulau yang terpencil, desa yang berada di lembah di hamparan gunung, ataupun desa yang berada di tengah hutan belantara. Sulitnya akses untuk mendapatkan energi menjadi polemik lama bangsa yang sudah merdeka selama 74 tahun ini. Ketidak-adilan dari segi harga dan kuantitas menjadi masalah lama yang mengharuskan kita bertindak untuk memberikan energi yang sama terhadap semua masyarakat Indonesia.

Namun, semua ini hanyalah cerita lama yang tidak perlu dihiraukan oleh generasi penerus bangsa ini nantinya. Ialah PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara, telah berhasil mewujudkan sebuah program yang nyata untuk memberikan energi yang sama sesuai dengan sila ke-5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Inilah Program BBM Satu Harga dari Pertamina yang telah berhasil mewujudkan keadilan sosial yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan kemudahan dalam mengakses energi untuk kehidupan masyarakat sehari-harinya. Semangat untuk menyalurkan energi agar masyarakat Indonesia dapat merasakan energi terus diupayakan untuk memenuhi BBM Satu Harga bagi masyarakat Indonesia.

Seperti halnya di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Timur, melalui Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus, Pertamina telah menuntaskan 30 titik BBM 1 Harga yang menjadi targetnya di tahun 2019 silam. Namun, semua tidak berhenti sampai disini, dimana akan ada 20 titik tambahan lagi yang akan direalisasikan pada tahun 2020 ini.

Sulit, namun tak ada yang tak mungkin dilakukan. Pepatah yang cocok untuk menggambarkan bagaimana Pertamina menjalankan Program BBM Satu Harga demi menggapai keadilan yang sama untuk anak-anak dari Tanah Air tercinta ini. Membelah tingginya ombak pasang dan jalan tanah yang tidak beraspal menjadi tantangan bagi awak mobil tanki dan awak kapal yang bertugas untuk menyalurkan energi kepada masyarakat di pelosok bumi pertiwi.

Sabu Raijua misalnya, pulau kedua paling selatan di Indonesia, 245 Km dari Kota Kupang sebagai ibukota Provinsi NTT. Pulau yang terkenal dengan Kelaba Madja yang mirip dengan Grand Canyon di Amerika Serikat ini tadinya kesulitan memiliki akses untuk mendapatkan energi pada tahun 2018 silam.

“Harga bensin kisaran Rp. 100.000 – Rp. 200.000 per-liter. Kami dijatah 1,5 liter seukuran botol air mineral. Sudah mahal, susah juga didapatnya kita tempuh dulu perjalanan bisa 5 – 6 km,” ujar Octovianus Alexander, salah satu petani bawang dari daerah Sabu Raijua.

Karena terpaksa, Alex dan petani lainnya patungan membeli BBM dengan harga mahal ke pengecer, agar sedikit bisa membantu menggerakkan traktor kesayangannya untuk bercocok tanam. Upaya mendapatkan BBM pun tak semulus yang dibayangkan. Ketersediannya terbatas. Rata-rata hanya 8 drum. Bahkan pada saat musim tanam dengan kebutuhan BBM yang sangat besar, tidak bisa mencukupi permintaan petani.

“Tapi itu dulu. Karena sejak akhir Agustus 2018 lalu, BBM satu harga sudah masuk di wilayah kami. Harga Bensin sudah sama dengan di Jawa, Rp 6.450 per liter. Jadi saya bisa gunakan traktor semaksimal mungkin. Pasokannya BBMnya juga lancar,” jelasnya.

Ada cerita dibalik senyuman Alex dan petani lainnya di Sabu Raijua. Yakni cerita dari awak kapal yang harus menerjang 30 jam paling cepat atau bahkan sampai 3 hari berlayar menerjang tingginya ombak dari Pelabuhan Tenau untuk mencapai Pelabuhan Sabu demi menyalurkan energi kepada masyarakat.

“Ini adalah semangat tulus tidak berhenti untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan memberikan kesejahteraan serta memajukan perokonomian di daerah yang sulit diakses,” ujar Rustam Aji, Unit Manager Communication & CSR MOR V Jatimbalinus.

Cerita dari Alex merupakan satu dari sekian banyak cerita dari para penduduk yang berada di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal di Indonesia. Satu dari sekian banyak cerita yang tentunya memberikan semangat yang baru bagi Pertamina untuk terus menyalurkan energi ke seluruh penjuru negeri.

“Pada akhirnya, tugas ini merupakan totalitas tanpa batas dan bentuk semangat dari Pertamina untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat Indonesia,” tutup Rustam.[rea]

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar