Ekbis

Banyak ‘Pintu Keluar’ Bagi Pelaku UMKM Bojonegoro

Pelaku UMKM yang aktif dan tetap bertahan di tengah Pandemi Covid-19.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Usianya menginjak 29 tahun. Tidak ada perayaan potong kue atau tiup lilin di hari lahirnya 2021 ini. Dia bahkan teringat hari ulang tahunnya dari pemberitahuan akun media sosial facebook. “Perhatian sekali,” gumamnya.

Agus Surono saat itu sedang mencuci screen yang biasa digunakan untuk menyablon kaos. Dia sedang ada pesanan, tidak banyak. Selusin kaos yang harus diselesaikan tepat waktu agar pelanggan tidak kecewa. Dan menggunakan jasanya lagi lain waktu.

Pesanan itu membuatnya kembali berpikir. Kondisi sulit selama Pandemi Covid-19 membuatnya tidak begitu banyak memutar uang untuk menghidupi usahanya sebagai pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berupa jasa sablon kaos maupun botol minuman.

Screen yang selesai dicuci kemudian dijemur di terik matahari. Sembari menunggu kering, dia kembali membuka handphone dan berselancar ke media sosial. Untuk mencari informasi juga hiburan. Sebuah dana pinjaman dari Pegadaian dengan ringan muncul di beranda media sosialnya.

Informasi itu tidak lantas ia percayai. Pria yang tinggal di Desa Banjarsari Kecamatan Trucuk Kabupaten Bojonegoro mencoba menghubungi kawannya yang dirasa lebih tahu. Perjumpaan dan obrolan lewat messenger membuatnya untuk mencoba. “Cukuplah untuk membantu memutar uang,” ujarnya.

Usahanya berjalan, dia juga membuka tabungan emas untuk masa depan. Perputaran uang dari usahanya itu disisihkan untuk menabung emas. Pandemi menurutnya memang sangat berdampak terhadap usaha yang dia lakukan.

Namun, dia berkayakinan banyak pintu yang bisa dibuka untuk tetap menjalankan usahanya. “Selain pinjaman modal, selama pandemi banyak juga bantuan pemerintah melalui berbagai sektor bagi pelaku UMKM, tinggal memperbanyak akses dan informasi,” jelasnya.

Sementara Pemimpin Cabang Pegadaian (Persero) Kabupaten Bojonegoro Juni Prastiwi juga mengakui selama pandemi Covid-19 ini banyak program yang ditawarkan pemerintah dari berbagai sektor untuk pemulihan ekonomi. Termasuk yang dilakukan badan usaha milik negara ini.

“Turunan produk Pegadaian saat ini banyak sekali, salah satunya gadai peduli untuk nasabah baru, pinjaman sebesar Rp500 ribu, termasuk subsidi sewa modal bagi pelaku UMKM,” ujarnya di konfirmasi jurnalis beritajatim.com, Jumat (30/4/2021).

Menurutnya, pinjaman modal sebesar Rp500 ribu ini memang menyasar bagi pelaku UMKM, dengan bunga 1,2 persen per 15 hari. Namun, dengan kebijakan baru dan pertimbangan selama masa sulit, pinjaman modal ini bunganya diturunkan. “Kebijakan ini memang dilakukan selama pandemi berlangsung,” jelasnya.

Momen Ramadan dan mendekati Hari Raya Idul Fitri, transaksi di Pegadaian sendiri menurutnya mengalami peningkatan. Baik yang mau melakukan gadai, pinjam modal, maupun menebus barang gadaian. “Sehari kalau ramai bisa 80 antrean, tapi kalau tidak ramai sekitar 50 antrean,” katanya.

Kemudahan teknologi juga dimanfaatkan Pegadaian Cabang Bojonegoro untuk mempermudah nasabah melakukan transasksi melalui pegadaian digital. Apalagi, selama masa pandemi Covid-19 ini, sehingga transaksi tidak perlu datang ke kantor pegadaian dan bisa mengurangi penyebaran Covid-19.

Di sisi lain, menurut salah seorang peneliti Poverty Resource Center Initiative (PRCI) Aw Syaiful Huda, peran UMKM sebenarnya sangat penting untuk menopang perekonomian daerah, terutama untuk pemerataan ekonomi kerakyatan. Sehingga perlu intervensi program yang kuat dari pemerintah.

“Jika sektor UMKM diperkuat, maka akan banyak menyerap tenaga kerja, menumbuhkan daya beli, serta mengentaskan kemiskinan di suatu daerah,” ungkapnya seperti dilansir dari situs PRCI.

Adanya perhatian serius baik dari pemerintah maupun pihak lain, pelaku usaha seperti Surono dan yang lain bisa kembali bangkit dan menjadi ujung tombak pemulihan ekonomi nasional setelah dihantan pandemi Covid-19. Ekonomi kerakyatan berputar dan pasar kembali hidup dan menghidupi. [lus/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar